​Sementara itu, klaim berbeda muncul dari Teheran. Media pemerintah Iran mengutip Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang justru mengklaim bahwa angkatan bersenjata merekalah yang menjatuhkan pesawat-pesawat AS tersebut sebagai bagian dari operasi penghancuran pangkalan AS di kawasan Teluk.

​Meski sebagian besar drone berhasil dicegat di wilayah Rumaithiya dan Salwa, puing-puing yang berjatuhan tetap menimbulkan kerusakan. Perusahaan Minyak Nasional Kuwait melaporkan dua pekerja mengalami luka ringan akibat jatuhnya material di kilang Mina Al-Ahmadi.

​Insiden salah tembak ini menunjukkan betapa tingginya risiko salah komunikasi di tengah wilayah udara yang padat dengan proyektil tempur. Kini, dunia internasional menunggu apakah eskalasi ini akan meluas menjadi perang terbuka yang melumpuhkan jalur perdagangan energi dunia.***