Proyek yang semula dijadwalkan mulai pada akhir Februari 2026 itu baru memasuki tahap pembangunan pada Agustus. Perumnas menggunakan skema turnkey tanpa penyertaan modal negara, tetapi nilai investasi terbaru dan rincian subsidi belum diumumkan.

KOSONGSATU.ID — Perum Perumnas resmi memulai pembangunan Apartemen Subsidi Samesta Alonia di Kemayoran, Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026. Proyek tersebut mulai dikerjakan sekitar enam bulan setelah jadwal peletakan batu pertama yang sebelumnya ditetapkan pada akhir Februari.

Samesta Alonia dirancang sebagai satu menara setinggi 32 lantai yang menyediakan 609 unit hunian. Seluruh unit ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR dan ditargetkan selesai pada 2028.

Pelaksana Tugas Direktur Utama Perum Perumnas Imelda Alini Pohan mengatakan proyek tersebut dipersiapkan selama hampir satu setengah tahun melalui kerja sama dengan kementerian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, perbankan milik negara, dan kontraktor.

“Filosofinya adalah menyediakan tempat tinggal yang nyaman, harmonis, dan penuh harapan bagi masyarakat,” kata Imelda dalam acara peletakan batu pertama di Kemayoran.

Jadwal pembangunan bergeser

Pembangunan Alonia sebelumnya ditargetkan dimulai pada akhir Februari 2026. Jadwal itu disampaikan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman setelah Menteri PKP Maruarar Sirait meninjau lokasi proyek pada 21 Januari 2026.

Namun, peletakan batu pertama baru dilaksanakan pada 7 Agustus. Pemerintah maupun Perumnas belum menjelaskan secara terperinci penyebab pergeseran jadwal sekitar enam bulan tersebut.

Target penyelesaian proyek juga berubah dibandingkan rencana awal. Pada Juli 2025, Perumnas menyatakan pembangunan akan berlangsung selama sekitar satu setengah tahun dan selesai pada 2027. Dalam pengumuman terbaru, penyelesaiannya ditargetkan pada 2028.

Perumnas sebelumnya memperkirakan proyek itu membutuhkan investasi sekitar Rp250 miliar. Belum diumumkan apakah nilai investasi tersebut berubah setelah penyesuaian jadwal, desain, harga material, dan skema pengerjaan proyek.

Harga unit mencapai Rp527 juta

Imelda mengatakan unit Alonia dipasarkan dengan harga Rp417 juta hingga Rp527 juta, sesuai tipe dan ketentuan terbaru Kementerian PKP. Angka itu lebih tinggi daripada publikasi pemasaran sebelumnya yang menyebut rentang harga sekitar Rp350 juta hingga Rp500 juta.

Hunian tersebut diperuntukkan bagi pembeli rumah pertama dengan batas penghasilan maksimal Rp12 juta per bulan bagi pembeli lajang dan Rp14 juta bagi pembeli yang telah berkeluarga.

Perumnas mencatat lebih dari 1.100 nomor urut pemesanan untuk 609 unit yang tersedia. Sekitar 450 calon pembeli disebut telah lolos pemeriksaan awal perbankan. Kelulusan pemeriksaan awal belum otomatis berarti seluruh calon pembeli memperoleh persetujuan kredit.

Proyek dibangun menggunakan skema kerja sama turnkey. Melalui skema ini, kontraktor menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu dan pembayaran dilakukan berdasarkan ketentuan kontrak setelah tahapan pekerjaan terpenuhi. Perumnas menyatakan pembangunan Alonia tidak menggunakan penyertaan modal negara.

Namun, Perumnas belum membuka identitas kontraktor, nilai kontrak terbaru, sumber pembayaran, pembagian risiko pembengkakan biaya, serta bentuk subsidi yang membuat proyek tersebut dikategorikan sebagai hunian subsidi.

Ukuran keterjangkauan belum diperinci

Jika pembelian dibiayai dengan kredit selama 20 tahun, harga unit Rp417 juta–Rp527 juta tetap dapat menghasilkan cicilan jutaan rupiah setiap bulan. Besarnya bergantung pada uang muka, tingkat bunga, tenor, biaya administrasi, dan nilai subsidi yang diterima pembeli.

Perumnas sebelumnya mempromosikan Alonia dengan cicilan mulai sekitar Rp2 juta per bulan. Akan tetapi, simulasi terbaru berdasarkan harga Rp417 juta–Rp527 juta belum dipublikasikan dalam acara peletakan batu pertama.

Biaya kepemilikan juga tidak hanya terdiri atas cicilan. Penghuni apartemen harus membayar iuran pengelolaan lingkungan atau IPL, utilitas, dana cadangan perawatan gedung, dan biaya fasilitas bersama.

Maruarar Sirait pada Januari lalu telah meminta Perumnas memastikan IPL tidak ditetapkan terlalu tinggi. Hingga pembangunan dimulai, besaran IPL serta mekanisme kenaikannya belum diumumkan.

Dikembangkan dengan konsep TOD

Perumnas menyebut Alonia menggunakan konsep kawasan berorientasi transit atau transit-oriented development. Lokasinya berada sekitar 400 meter dari stasiun kereta dan berdekatan dengan kawasan perkantoran, rumah sakit, fasilitas pendidikan, jalan tol, serta pusat kegiatan ekonomi.

Perumnas juga mulai membahas pembangunan halte di depan kawasan tersebut bersama PT Transportasi Jakarta. Namun, jadwal pembangunan halte dan bentuk kerja samanya belum dipastikan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan pembangunan apartemen subsidi perlu diperluas untuk mengatasi kekurangan pasokan perumahan, terutama bagi kelompok berpenghasilan terbatas.

Wakil Menteri PKP Fahri Hamzah menilai proyek tersebut menandai upaya mengembalikan Perumnas sebagai pemain utama dalam penyediaan perumahan rakyat.

Meski demikian, status hunian subsidi perlu diikuti dengan keterbukaan mengenai nilai subsidi per unit, simulasi cicilan, biaya pengelolaan, mekanisme seleksi penghuni, dan larangan pengalihan unit. Pengawasan dibutuhkan untuk memastikan apartemen benar-benar dihuni pembeli yang memenuhi kriteria MBR serta tidak berubah menjadi komoditas sewa atau diperdagangkan kembali.***