Rupiah kembali berguncang. Pakar menyebut ekonomi Indonesia masuk ‘survival mode’ di tengah bayang-bayang krisis 1998 yang kelam.


KOSONGSATU. ID – Di balik angka pertumbuhan ekonomi yang masih dibanggakan pemerintah, realita di lapangan justru memperlihatkan kerentanan struktural yang mengkhawatirkan.

Pelemahan mata uang garuda kali ini dinilai bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan alarm bahaya dari rapuhnya fondasi moneter yang akar masalahnya telah tertanam sejak puluhan tahun silam.

​Bayang-Bayang Kelam 1997 dan Nasib Rupiah Hari Ini

​Kondisi nilai tukar Rupiah belakangan ini memicu kekhawatiran besar bagi banyak pihak. Bukan sekadar fluktuasi biasa, pelemahan mata uang garuda ini mulai dibandingkan dengan tragedi moneter 1997/1998.

Ekonom senior, Ichsanuddin Noorsy, menilai bahwa akar masalah ini bermula sejak Indonesia menganut sistem kurs mengambang bebas (free floating exchange rate) pada 14 Agustus 1997.

​Menurut Noorsy, saat ini Rupiah bukan lagi sekadar alat tukar, melainkan telah menjadi komoditas spekulasi yang nasibnya ditentukan di pasar global seperti New York atau London. Krisis yang bermula dari spekulasi di Singapura pada masa lalu kini bertransformasi menjadi ancaman baru yang lebih kompleks.

​“Merujuk kejatuhan Rupiah saat ini, banyak kalangan bahkan kecerdasan buatan sekalipun membandingkannya dengan kondisi 1997/1998,” ujar Ichsanuddin Noorsy dalam analisisnya: https://rmol.id/publika/read/2026/05/13/706983/lima-penyebab-rupiah-ambruk

Ia menekankan bahwa kerentanan Indonesia kini berada di posisi ketiga tertinggi menurut World Risk Index 2025 dengan skor 39,8.

​Fase ‘Survival Mode’ dan Kelumpuhan Ekonomi

​Noorsy mengungkapkan hal yang mengejutkan: otoritas keuangan seolah “malu-malu” mengakui bahwa Indonesia kini berada dalam fase survival mode. Dalam terminologi medis, kondisi ini ibarat pasien yang berada di Unit Khusus Perawatan—setingkat di atas Unit Gawat Darurat (UGD).

​”Semua kemampuan kedokteran medis dikerahkan untuk mengatasi sebab musabab penyakit,” jelasnya. Ia menyoroti tujuh indikator kelumpuhan ekonomi, di mana perbankan lebih memilih membeli SBN atau SBRI daripada menyalurkan kredit ke sektor riil.