​Lewat kebijakan ini, masyarakat kembali yakin untuk menyimpan kekayaan mereka di lembaga keuangan resmi. Perlahan namun pasti, jurus ini membuahkan hasil manis. Habibie sukses memangkas suku bunga dari angka mengerikan sekitar 60 persen menjadi hanya belasan persen. Sektor riil yang sebelumnya mati suri pun kembali bernapas.

​Menjaga Perut Rakyat di Tengah Badai

​Membenahi angka makro saja tidak cukup. Habibie sadar betul ia harus mengamankan perut rakyat. Oleh karena itu, pemerintah menahan keras harga BBM subsidi dan tarif listrik agar tidak melesat liar. Habibie ingin menjaga sisa daya beli masyarakat yang sudah tergerus lonjakan inflasi.

​Menariknya, di tengah himpitan ekonomi ini, sang presiden sempat mengajak masyarakat berpuasa Senin-Kamis sebagai langkah penghematan massal. Anjuran yang tercatat dalam buku Inspirasi Habibie (A. Makmur Makka, 2020) ini memang menuai beragam reaksi. Namun, rentetan kebijakan rasional Habibie pada akhirnya memancarkan sinyal positif bagi dunia internasional.

​Catatan Emas Pemulihan Ekonomi

​Kepercayaan investor yang sempat runtuh perlahan terbangun kembali. Derasnya arus modal asing yang masuk perlahan namun pasti menguatkan otot rupiah. Dari angka belasan ribu, nilai tukar dolar AS berhasil Habibie tekan hingga menyentuh kisaran Rp6.550.

​Pencapaian gemilang ini terukir abadi sebagai salah satu babak paling sukses dalam sejarah pemulihan ekonomi Indonesia pascakrisis 1998. Gejolak rupiah yang terjadi hari ini semestinya bisa bangsa ini lewati dengan bercermin pada ketegasan, independensi lembaga, dan kecerdasan taktik masa lalu.***