Nilai tukar rupiah anjlok ke Rp17.600, memicu ingatan publik pada krisis 1998 dan langkah berani BJ Habibie memulihkan ekonomi.
KOSONGSATU. ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menyedot perhatian publik. Pada Jumat (15/5/2026), mata uang Garuda terperosok hingga menyentuh level Rp17.600. Lonjakan ini sontak membangunkan memori kolektif masyarakat tentang krisis moneter 1998. Kala itu, dolar AS melesat liar hingga Rp16.800 dan memporak-porandakan fondasi ekonomi nasional.
Kehancuran ekonomi ini bahkan memicu turbulensi politik yang mengakhiri tiga dekade kekuasaan Presiden Soeharto. Di tengah pusaran krisis, BJ Habibie tampil memegang kendali negara dan memanggul beban ekonomi yang luar biasa berat.
Restrukturisasi Perbankan sebagai Titik Balik
Melangkah ke masa kepemimpinannya, Habibie langsung berhadapan dengan sistem perbankan yang babak belur. Kebijakan Paket Oktober 1988 (Pakto 88) sebelumnya memang memicu menjamurnya bank baru, tetapi pemerintah abai pada pengawasan dan ketahanan modal. Akibatnya, saat badai krisis menghantam, banyak bank rontok karena salah urus dan lilitan kredit macet.
Masyarakat panik dan menarik dana mereka besar-besaran. Menghadapi kekacauan ini, Habibie bermanuver cepat. Ia menggabungkan empat bank berpelat merah menjadi satu kekuatan baru, yakni Bank Mandiri. Langkah tegas ini sukses menambal celah rapuh perbankan sekaligus memulihkan kepercayaan publik.
Tidak hanya itu, Habibie juga memperkuat posisi Bank Indonesia lewat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999. Regulasi ini mengunci independensi bank sentral dari campur tangan pemerintah, sehingga BI bisa mengeksekusi kebijakan secara lebih objektif. Dalam autobiografinya, BJ Habibie: Detik-detik yang Menentukan, ia menegaskan bahwa independensi inilah kunci utama menjaga muruah rupiah di mata pasar.
Menjinakkan Uang Beredar Lewat Suku Bunga
Setelah merapikan struktur perbankan, pemerintah mengalihkan fokus pada pengetatan moneter. Habibie merilis Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang menawarkan suku bunga sangat tinggi. Strategi ini ampuh menyedot kembali dana masyarakat ke dalam brankas bank dan mengerem jumlah uang beredar.
Lewat kebijakan ini, masyarakat kembali yakin untuk menyimpan kekayaan mereka di lembaga keuangan resmi. Perlahan namun pasti, jurus ini membuahkan hasil manis. Habibie sukses memangkas suku bunga dari angka mengerikan sekitar 60 persen menjadi hanya belasan persen. Sektor riil yang sebelumnya mati suri pun kembali bernapas.
Menjaga Perut Rakyat di Tengah Badai
Membenahi angka makro saja tidak cukup. Habibie sadar betul ia harus mengamankan perut rakyat. Oleh karena itu, pemerintah menahan keras harga BBM subsidi dan tarif listrik agar tidak melesat liar. Habibie ingin menjaga sisa daya beli masyarakat yang sudah tergerus lonjakan inflasi.
Menariknya, di tengah himpitan ekonomi ini, sang presiden sempat mengajak masyarakat berpuasa Senin-Kamis sebagai langkah penghematan massal. Anjuran yang tercatat dalam buku Inspirasi Habibie (A. Makmur Makka, 2020) ini memang menuai beragam reaksi. Namun, rentetan kebijakan rasional Habibie pada akhirnya memancarkan sinyal positif bagi dunia internasional.
Catatan Emas Pemulihan Ekonomi
Kepercayaan investor yang sempat runtuh perlahan terbangun kembali. Derasnya arus modal asing yang masuk perlahan namun pasti menguatkan otot rupiah. Dari angka belasan ribu, nilai tukar dolar AS berhasil Habibie tekan hingga menyentuh kisaran Rp6.550.
Pencapaian gemilang ini terukir abadi sebagai salah satu babak paling sukses dalam sejarah pemulihan ekonomi Indonesia pascakrisis 1998. Gejolak rupiah yang terjadi hari ini semestinya bisa bangsa ini lewati dengan bercermin pada ketegasan, independensi lembaga, dan kecerdasan taktik masa lalu.***





Tinggalkan Balasan