
Soal biaya, Bagus Harianto, Penanggung Jawab Rumah Syukur wilayah Kudu, Jombang, menyebut anggaran satu unit rumah di wilayahnya berkisar Rp120 juta. Dana itu dihimpun dari sedekah pribadi anggota, baik berupa uang tunai maupun material bangunan.
“Penggalian dana berasal dari shodaqoh pribadi anggota, ada yang berupa material dan kebutuhan lainnya,” kata Bagus Harianto.
Skema pendanaan yang sepenuhnya swadaya itu justru membuat pilihan memakai mesin canggih ini terasa lebih berarti. Bukan proyek berbayar yang mengejar margin, melainkan kerja sosial yang tetap menjaga standar teknis.
Penerima manfaat program umumnya adalah warga yang tinggal di rumah tidak layak huni. Salah satunya Ibu Putiah, 71 tahun, warga Desa Madi, Kecamatan Kudu, seorang lansia yang selama ini mengasuh cucu-cucunya di rumah yang jauh dari kata layak.
Dengan mesin pengaduk yang bisa dipindahkan ke titik berikutnya begitu satu rumah rampung, pola kerja relawan menjadi lebih efisien. Program ini tidak terpusat dan tidak menunggu proposal pemerintah, sehingga bisa langsung menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan yang dihadapi di setiap daerah — bukti bahwa niat baik, jika dikerjakan dengan alat yang tepat, tidak harus berjalan lambat.***




Tinggalkan Balasan