Sebelum ada Kartini, ada Retno Dumilah—bupati perempuan Purabaya yang menolak tunduk pada Mataram dan akhirnya dimakamkan di Kotagede, jauh dari tanah kelahirannya.
KOSONGSATU.ID — Retno Dumilah bukan sekadar nama dalam babad. Ia tercatat sebagai bupati kedua Purabaya — wilayah yang kini menjadi Madiun, Jawa Timur — dan salah satu perempuan paling awal memegang jabatan kepala wilayah dalam catatan historiografi Jawa.
Pemerintah Kabupaten Madiun secara resmi menyebutnya sebagai Bupati Madiun kedua sekaligus bupati perempuan pertama di Jawa, bahkan ada yang menyebutnya gubernur perempuan pertama karena Purabaya saat itu membawahi 15 kabupaten di kawasan Mancanegara Timur.
“Retno Dumilah itu bupati perempuan pertama di Jawa. Atau boleh disebut gubernur perempuan pertama karena wilayah kekuasaan Purabaya saat itu membawahi 15 kabupaten di sekitarnya,” kata Bernardi S. Dangin, koordinator riset Kompas Madya, sebagaimana dikutip Viva.co.id.
Dari Trah Demak ke Tanah Purabaya
Kisah Retno Dumilah tidak bisa dipisahkan dari ayahnya, Pangeran Timur atau Panembahan Ronggo Jumeno — putra Sultan Trenggono, raja ketiga Kesultanan Demak yang memerintah 1521–1546.
Pangeran Timur diangkat sebagai Bupati Purabaya pada 18 Juli 1568 dan memerintah selama 18 tahun hingga sekitar 1586. Di bawah kepemimpinannya, pusat pemerintahan dipindahkan dari Kelurahan Sogaten ke Desa Kuncen (kini Kota Madiun) pada 1575.
Setelah Pangeran Timur mundur, kekuasaan diserahkan kepada putrinya. Retno Dumilah pun menjadi bupati Purabaya yang kedua, mewarisi kendali atas kadipaten yang saat itu menjadi salah satu kekuatan politik paling berpengaruh di kawasan timur Pulau Jawa.
Dua Serangan Ditahan, Serangan Ketiga Menentukan
Pada masa pemerintahan Retno Dumilah, Kesultanan Mataram di bawah Panembahan Senopati tengah menjalankan ekspansi besar-besaran untuk menyatukan wilayah-wilayah Jawa. Purabaya, yang menolak tunduk karena masih merasa memiliki ikatan dengan trah Pajang, menjadi salah satu sasaran utama.
Mataram melancarkan serangan pertama pada 1586 dan serangan kedua pada 1587. Keduanya berhasil dipatahkan pasukan Purabaya yang mendapat dukungan dari koalisi 15 bupati Mancanegara Timur.




Tinggalkan Balasan