Eskalasi konflik Iran melawan koalisi AS-Israel sejak akhir Februari 2026 memukul perekonomian Timur Tengah, memicu pelemahan pound Mesir dan ancaman kerugian pariwisata hingga Rp944 triliun.
KOSONGSATU.ID—Nilai tukar pound Mesir melemah ke level di atas Rp52.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (9/3/2026). Ini adalah level terendah dalam 10 bulan terakhir.
Sebelum konflik memanas, pound diperdagangkan di kisaran Rp46.820 pada 16 Februari 2026.
Pelemahan ini dipicu keluarnya investor asing dari pasar surat utang Mesir, serta meningkatnya permintaan valuta asing untuk membiayai impor. Ekonom memperkirakan arus keluar mencapai sekitar USD2,5 miliar pada pekan pertama Maret 2026.
Beban Subsidi Energi Membengkak
Sebagai negara pengimpor energi, Mesir merasakan dampak langsung lonjakan harga minyak global.
Menteri Perminyakan Mesir menaikkan harga bahan bakar minyak hingga 17 persen pada Selasa (10/3/2026). Solar naik lebih dari 17 persen per liter, sementara bensin oktan 92 dan 95 naik masing-masing 15 persen dan 14 persen.
Pemerintah Mesir sebelumnya menetapkan subsidi energi dalam anggaran 2025-2026 sebesar 150 miliar pound dengan asumsi harga minyak USD75 per barel.
Profesor ekonomi Islam Abdel-Bari dari Arab Academy for Science, Technology, and Maritime Transport, memperingatkan setiap kenaikan USD1 dolar per barel akan menambah beban subsidi 4 miliar pound. Jika harga menyentuh USD100, beban tambahan bisa mencapai 100 miliar pound.
Pasokan gas dari Israel juga terhenti setelah ladang Leviathan dan Tamar ditutup. Mesir terpaksa mengimpor LNG dengan harga lebih tinggi, dari sebelumnya USD7-8 per MMBtu menjadi USD11-14 per MMBtu.
Pariwisata Timur Tengah Terancam Rugi Rp944 Triliun
Lembaga riset Tourism Economics memproyeksikan kunjungan wisatawan mancanegara ke Timur Tengah bisa turun 11-27 persen pada 2026 akibat konflik.
Secara absolut, ini berarti penurunan 23-38 juta wisatawan dibandingkan proyeksi sebelum perang. Kerugian pengeluaran wisatawan mencapai USD34-56 miliar, atau setara Rp573,65 triliun hingga Rp944,8 triliun.




Tinggalkan Balasan