Evolusi Modus Penipuan

​Tingginya angka kerugian ini sejalan dengan evolusi taktik para penjahat siber. Mereka tidak lagi menebar tautan acak, melainkan menggunakan teknik manipulasi psikologis yang menyesuaikan kebiasaan harian masyarakat.

​Kaspersky, perusahaan keamanan siber global, mencatat tren serupa di tingkat dunia. Sepanjang tahun 2024, mereka telah memblokir lebih dari 893 juta upaya phishing global, melonjak 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

​”Pada 2024, penjahat siber kerap meniru situs web terkenal seperti Booking.com, AirBnB, TikTok, Telegram, dan lain-lain untuk menjerat korban,” ungkap Tim Riset Kaspersky dalam laporan risetnya pada 1 Maret 2025.

​Tingginya penetrasi transaksi digital di Indonesia tampaknya belum diimbangi dengan literasi keamanan yang solid. Masyarakat masih rentan terhadap pencurian kredensial, baik melalui kiriman file APK bodong, pemindaian QRIS palsu di ruang publik, hingga situs web palsu yang mengatasnamakan institusi resmi.

​Dampak jangka panjang dari kelalaian ini pun tidak main-main. Data pribadi korban yang terlanjur diinput di laman phishing berpotensi diperjualbelikan di forum dark web. Identitas curian ini sering kali digunakan secara ilegal oleh sindikat kriminal untuk mendaftar pinjaman online bodong atau melakukan tindak pidana siber lainnya.***