Irama yang Bukan Sekadar Hiasan

Satu hal yang sering luput dari perhatian penonton: musik pengiring Ojhung bukan sekadar latar belakang.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Language Literature and Arts Universitas Negeri Malang (2025) mengkaji secara khusus fungsi musik dalam ritual Ojhung dan menemukan bahwa irama ghambang dan dhuk-dhuk berperan aktif dalam membentuk ritme gerak para petarung. Secara ilmiah, ini berkaitan dengan bagaimana gelombang bunyi — dengan frekuensi dan amplitudo tertentu — mempengaruhi respons psikofisiologis manusia: detak jantung, ketegangan otot, bahkan waktu reaksi.

Leluhur Madura tidak mengenal istilah “gelombang longitudinal” atau “frekuensi resonansi”. Tapi mereka tahu persis: tanpa dhuk-dhuk yang tepat, pertarungan terasa hambar, dan petarung tidak bisa masuk ke “zona”-nya.

Sains asli, kemasan tradisi.

Tubuh sebagai Laboratorium

Konsep paling menarik mungkin ada pada dimensi biologisnya. Untuk bisa bertarung dalam Ojhung, seseorang tidak bisa datang begitu saja. Proses pembentukan tubuh petarung Ojhung adalah proses kondisioning jangka panjang — paparan stimulus fisik berulang yang melatih jaringan kulit dan otot untuk lebih tahan terhadap benturan. Dalam ilmu olahraga modern, ini disebut mechanical conditioning atau adaptasi jaringan ikat.

Konsep “tubuh kebal” yang selama ini dibungkus dalam narasi mistis — kanoragan, mantra, ritual — sesungguhnya memiliki landasan biologis yang sangat nyata. Tubuh manusia memang mampu beradaptasi terhadap tekanan fisik berulang. Kulit menebal, ambang nyeri meningkat, refleks menghindar menjadi lebih tajam. Nenek moyang Madura memahami ini jauh sebelum ilmu biologi olahraga modern eksis.

Dari Ritual ke Ruang Kelas

Temuan-temuan etnosains ini bukan hanya menarik secara akademik — tapi juga berpotensi praktis. Sejumlah peneliti pendidikan kini mengadvokasi penggunaan kearifan lokal seperti Ojhung sebagai media pembelajaran IPA di sekolah, khususnya untuk materi fisika dan biologi di tingkat SMP.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Sumenep, Faruk Hanafi, melihat potensi ini sebagai bagian dari strategi besar. “Tidak hanya mempertahankan nilai tradisi, kami juga mengemas festival ini dengan konsep yang lebih atraktif dan edukatif, sehingga bisa menjadi pengalaman wisata budaya yang berkesan bagi pengunjung,” ujarnya pada penyelenggaraan Festival Ojhung di Pantai Galung, April 2026.

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menambahkan dimensi yang lebih luas. “Festival Ojhung bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga cerminan nilai-nilai keberanian, sportivitas, dan kearifan lokal yang harus terus kita jaga,” tegasnya, Maret 2026.