Perang AS-Israel melawan Iran kian memanas. Pakar militer menyebut Iran sulit dikalahkan karena pertahanan lawan semakin melemah.
KOSONGSATU. ID – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi ini justru membuktikan ketangguhan militer Iran yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh lawan.
Pakar Strategi Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU) Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati menegaskan bahwa Iran merupakan negara yang terlalu kuat untuk kalah.
“Iran terlalu besar untuk dikalahkan dan dianggap remeh. Secara militer habis, untuk tactical output 90% punya Iran selesai. Tetapi di sisi lain, kemampuan serangnya Iran tidak pernah berkurang,” ujar Agung dalam siniar To The Po!nt Aja SindoNews, Jumat (13/3/2026).

Taktik Asimetris Iran Menguras Anggaran AS
Agung menyoroti penurunan drastis kemampuan pertahanan udara AS dan Israel. Pada awal konflik, sistem pertahanan mereka mampu mencegat 70 persen serangan udara Iran. Namun, angka tersebut terus merosot menjadi 50 persen, dan kini hanya tersisa 15 persen. Kondisi ini membuat Iran mengubah strategi menjadi jauh lebih efisien.
“Kalau tadinya ngirim 15 rudal, drone-nya 10 namanya asimetris, sekarang dia cukup ngirim satu atau dua rudal pasti masuk. Lebih irit sekarang. Jadi Iran menghabisi lawan pada perang pertama, kedua, dan ketiga dengan mengirimkan banyak rudal dan drone,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan taktik perang asimetris Iran sukses menguras finansial militer lawan. Iran cukup meluncurkan drone seharga USD20.000 dan rudal jelajah USD500.000. Sebaliknya, AS harus menangkal serangan tersebut menggunakan rudal Patriot yang harganya mencapai USD4 juta per unit.
Keadaan ini bahkan membuat Kuwait kehabisan rudal pencegat Patriot hingga terpaksa menggunakan stok rudal sisa Perang Teluk 1991.
Dukungan Satelit Tiongkok dan Hancurnya Radar AS
Selain unggul dari sisi taktik, Iran juga berhasil melumpuhkan “mata” utama militer AS di kawasan tersebut. Agung mengungkapkan, Iran telah menghancurkan empat unit radar pendeteksi rudal balistik jarak jauh milik AS yang beroperasi di Timur Tengah.
Keberhasilan serangan jarak jauh Iran ini ternyata tidak lepas dari sokongan teknologi satelit BeiDou milik Tiongkok. Satelit ini tidak hanya mengirimkan sinyal GPS, tetapi juga menyuplai data dan informasi presisi sehingga Iran tetap bisa mengendalikan rudalnya dari jarak jauh.
Tidak berhenti di situ, Tiongkok juga menyiagakan lima kapal perang modern usai menggelar latihan militer bersama Iran bulan lalu. Kapal-kapal ini diam-diam memantau pergerakan udara menggunakan teknologi radar AESA yang mampu mendeteksi pesawat siluman.
Iran Lumpuhkan Pangkalan Militer AS
Di sisi lain, Agung menyebutkan bahwa Iran sangat spesifik dalam menargetkan serangan. Mereka fokus menghantam fasilitas militer dan menghindari target sipil. Akibatnya, banyak pangkalan militer AS di Timur Tengah yang hancur lebur.
Serangan Iran sangat selektif. Sebagai contoh, mereka hanya menghancurkan area pangkalan milik AS, sementara fasilitas negara tuan rumah seperti Kuwait di sebelahnya tetap utuh. Kerusakan parah ini memaksa pesawat militer AS mengubah rute pendaratan ke bandara sipil karena pangkalan mereka telah kehilangan fasilitas esensial.
“Enggak mungkin ada mess-nya lagi, enggak ada rumah sakitnya, sudah pergi semua. Dicurigai ada juga yang tewas di situ, lepas dari berapa orang. Kan enggak mungkin ada ruangan besar pusat komando dijebol gitu, orangnya cuma sedikit,” tutup mantan penerbang pesawat tempur F-16 tersebut.
Situasi peperangan ini menunjukkan perubahan tajam pada peta kekuatan militer di Timur Tengah. Keunggulan taktik asimetris Iran serta hancurnya fasilitas vital Amerika Serikat membuat konflik ini semakin sulit Amerika menangkan. Ke depannya, hegemoni militer tradisional harus mencari cara baru untuk berhadapan dengan strategi perang yang jauh lebih taktis, efisien, dan mematikan.***





Tinggalkan Balasan