Keberhasilan serangan jarak jauh Iran ini ternyata tidak lepas dari sokongan teknologi satelit BeiDou milik Tiongkok. Satelit ini tidak hanya mengirimkan sinyal GPS, tetapi juga menyuplai data dan informasi presisi sehingga Iran tetap bisa mengendalikan rudalnya dari jarak jauh.
Tidak berhenti di situ, Tiongkok juga menyiagakan lima kapal perang modern usai menggelar latihan militer bersama Iran bulan lalu. Kapal-kapal ini diam-diam memantau pergerakan udara menggunakan teknologi radar AESA yang mampu mendeteksi pesawat siluman.
Iran Lumpuhkan Pangkalan Militer AS
Di sisi lain, Agung menyebutkan bahwa Iran sangat spesifik dalam menargetkan serangan. Mereka fokus menghantam fasilitas militer dan menghindari target sipil. Akibatnya, banyak pangkalan militer AS di Timur Tengah yang hancur lebur.
Serangan Iran sangat selektif. Sebagai contoh, mereka hanya menghancurkan area pangkalan milik AS, sementara fasilitas negara tuan rumah seperti Kuwait di sebelahnya tetap utuh. Kerusakan parah ini memaksa pesawat militer AS mengubah rute pendaratan ke bandara sipil karena pangkalan mereka telah kehilangan fasilitas esensial.
“Enggak mungkin ada mess-nya lagi, enggak ada rumah sakitnya, sudah pergi semua. Dicurigai ada juga yang tewas di situ, lepas dari berapa orang. Kan enggak mungkin ada ruangan besar pusat komando dijebol gitu, orangnya cuma sedikit,” tutup mantan penerbang pesawat tempur F-16 tersebut.
Situasi peperangan ini menunjukkan perubahan tajam pada peta kekuatan militer di Timur Tengah. Keunggulan taktik asimetris Iran serta hancurnya fasilitas vital Amerika Serikat membuat konflik ini semakin sulit Amerika menangkan. Ke depannya, hegemoni militer tradisional harus mencari cara baru untuk berhadapan dengan strategi perang yang jauh lebih taktis, efisien, dan mematikan.***



Tinggalkan Balasan