Fakta Sejarah Soekarno Seorang Kutu Buku dan Kesaksian Rachmawati Soekarnoputri
Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa Soekarno adalah pembaca yang rakus (voracious reader). Rachmawati Soekarnoputri, sang putri, dalam memoarnya Bapakku Ibuku, bersaksi bagaimana buku menjejali setiap sudut Istana Negara—mulai dari tempat tidur, kursi, hingga kamar mandi berubah fungsi menjadi perpustakaan pribadi.
Dokter pribadinya, Mahar Mardjono, juga sering mendapati Soekarno berbaring di serambi istana yang dikelilingi surat kabar dan majalah asing. Ketertarikan membaca ini bermula dari gemblengan H.O.S. Tjokroaminoto dan akses ke perpustakaan theosofi di Surabaya.
Dari lembaran-lembaran kertas itulah, mental Soekarno berdialog dengan pemikiran Thomas Jefferson hingga Karl Marx, membentuknya menjadi seorang nasionalis yang menyala-nyala sekaligus penulis produktif yang merujuk ratusan tokoh dunia dalam karya-karyanya.
Arahan Megawati Soal Membaca Buku Kepada Kader
Kesadaran akan pentingnya literasi ini kemudian diinstitusionalkan. Megawati Soekarnoputri mewajibkan seluruh kader PDIP, terutama anggota legislatif dan kepala daerah, untuk menjadikan buku sebagai makanan sehari-hari.
Tradisi ini mewujud dalam Sekolah Partai, di mana kader wajib mendalami ideologi melalui buku-buku pokok seperti Indonesia Menggugat, Lahirnya Pancasila, dan Sarinah. Gerakan ini bahkan meluas ke masyarakat melalui program Banteng Mengajar, memastikan distribusi pengetahuan menyentuh akar rumput.
Kritik Kepada Pejabat Politisi Masa Kini
Sayangnya, realitas politik hari ini sering kali menampilkan ironi yang menyayat hati. Ketika para pendiri bangsa menjadikan politik sebagai arena pertarungan gagasan hasil dari dialektika bacaan, panggung politik modern justru riuh oleh pragmatisme, pencitraan media sosial, dan baliho raksasa.
Politisi masa kini kerap menjauh dari buku. Dampaknya teramat fatal: lahirnya kebijakan yang reaktif, dangkal, dan cacat logika karena miskin kajian akademis. Pidato politik kering dari kutipan pemikiran besar, tergantikan oleh jargon populis yang bising namun hampa makna.




Tinggalkan Balasan