“Di depan istana, dia [Kapten Tack] diserang oleh Surapati dan prajurit-prajurit Amangkurat II yang menyamar sebagai orang Bali. […] Tack menemui ajal pada 8 Februari 1686. Terdapat 20 luka pada tubuhnya,” catat sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2004.

Sedikitnya 74 serdadu elite Eropa tewas terbantai hari itu. Pembunuhan ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan pukulan telak yang mempermalukan VOC secara diplomatis, memaksa mereka menunda ekspansi di pedalaman Jawa, dan secara permanen meruntuhkan mitos superioritas kulit putih di Nusantara.

Membangun Negara Independen di Ujung Timur

Sebagai imbalan atas “jasa kotor” menghabisi Kapten Tack, Amangkurat II memberikan wilayah timur untuk Suropati. Manuskrip Babad Trunajaya-Surapati merekam perintah sang raja: “Sekarang Anda harus berjalan ke timur; wilayah Pasuruan kuhadiahkan kepadamu.”

Suropati menyingkir ke Jawa Timur dan sukses menaklukkan Pasuruan. Ia melepaskan status budaknya secara paripurna dengan mengangkat diri sebagai Adipati Aria Wiranegara. Selama kurang lebih 20 tahun (1686–1706), ia berhasil mempertahankan Pasuruan sebagai entitas independen yang merdeka dari kontrol VOC.

Peneliti Sejarah Nasional, Sri Wintala Achmad, merangkum pencapaian ini dengan tajam: “Dengan sistem feodalisme yang sangat kuat, seorang budak bernama Untung Surapati berhasil menjadi penguasa… Di sinilah letak keistimewaan Untung Surapati.”

Palagan Bangil dan Catatan Skeptis Sejarah

Kemandirian Pasuruan baru menemui ujungnya pada akhir tahun 1706. VOC yang sudah kehabisan kesabaran mengirim koalisi militer raksasa di bawah pimpinan Mayor Goovert Knol.

Koalisi yang melibatkan serdadu Belanda, pasukan Mataram pro-VOC, serta prajurit dari Madura dan Surabaya ini menggempur benteng Suropati di Bangil. Setelah bertempur habis-habisan sejak September, Untung Suropati tewas akibat luka parah pada 5 Desember 1706.

Meski perlawanan fisiknya usai, warisan sejarahnya terus hidup. Dalam bingkai jurnalistik historis, sosok Suropati memang sering berada di garis tipis antara fakta dan mitos. Catatan silsilah bangsawan Balinya lebih banyak bersandar pada cerita tutur Babad yang sarat akan bumbu legitimasi kekuasaan.