Presiden Rusia Vladimir Putin mengevakuasi Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei ke Moskow untuk rawat luka akibat serangan.


KOSONGSATU. ID – ​Presiden Rusia Vladimir Putin mengerahkan pesawat militer Kremlin dalam sebuah operasi rahasia. Pesawat ini membawa Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, ke Moskow.

Media Kuwait, Al Jarida, melaporkan bahwa langkah ini bertujuan memberikan perawatan medis intensif bagi Mojtaba.

Sebelumnya, sang pemimpin menderita cedera serius akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Teheran pada 28 Februari lalu.

​Tawaran Langsung dari Putin

​Sumber tingkat tinggi Iran menyebut Putin mengajukan tawaran evakuasi ini langsung kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (12/3). Pejabat Iran segera mengkaji usulan tersebut dan akhirnya memberikan persetujuan. Malam itu juga, tim dokter mendampingi Mojtaba terbang menggunakan armada militer Rusia.

​Rusia dan Iran sengaja merahasiakan pemindahan ini demi menjamin keamanan sang pemimpin. Saat ini, Mojtaba telah melewati operasi bedah yang sukses dan sedang menjalani pemulihan di sebuah rumah sakit swasta eksklusif di kawasan istana kepresidenan Moskow.

​Luka Serius dan Ancaman Keamanan

​Cedera Mojtaba ternyata memerlukan fasilitas medis tingkat tinggi dan pengawasan ketat. Kondisi perang membuat rumah sakit di Iran tidak mampu memenuhi standar perawatan tersebut. Selain itu, manuver Israel yang secara terbuka menargetkan Mojtaba semakin memaksa Iran memindahkan pemimpinnya ke luar negeri.

​Intelijen Israel bahkan meyakini luka sang pemimpin jauh lebih parah dari laporan awal. Laporan sebelumnya menyebutkan ia hanya mengalami patah kaki dan luka wajah, serta tertimpa reruntuhan pada sisi kiri tubuhnya.

Presiden AS Donald Trump pada 12 Maret lalu turut memperkeruh suasana dengan menyebut kondisi Mojtaba sudah “rusak” dan meragukan apakah sang pemimpin tertinggi itu masih hidup.

​Kejanggalan Pidato Perdana

​Kondisi kritis ini kemudian memicu kecurigaan baru terkait pidato perdana Mojtaba baru-baru ini. Kalangan reformis Iran mencurigai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, sebagai penulis naskah pidato tersebut.

Tata bahasa dan gaya kalimat yang muncul sangat identik dengan kebiasaan Larijani. Absennya rekaman suara maupun video Mojtaba semakin memperkuat dugaan bahwa sang pemimpin bahkan tidak menyadari rilis pidato itu.

Evakuasi medis ini membuktikan tingginya tingkat ketergantungan Iran terhadap Rusia di tengah krisis keamanan yang melanda kawasan.

Dunia kini menanti perkembangan kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei, mengingat nasibnya akan secara langsung memengaruhi arah konflik di Timur Tengah ke depan.***