Dari filsafat “nitis” Kerajaan Kediri hingga penyelam genetik Suku Bajo — ternyata DNA semesta Avatar mengalir dari Nusantara.


KOSONGSATU.ID — Sebelum James Cameron atau para kreator Avatar: The Last Airbender lahir, Nusantara sudah lebih dulu hidup dalam kisah tentang jiwa yang turun ke bumi, penguasa samudra yang menyelam tanpa batas, dan guru agung yang mengubah peradaban. 

Semesta Avatar bukan meminjam ide dari Nusantara secara kebetulan. Ia memantulkan apa yang sudah ada di sini sejak berabad silam.

“Nitis”: Reinkarnasi yang Lebih Tua dari Animasi Mana Pun

Kata “avatar” berakar dari bahasa Sanskerta: avatāra, yang berarti penurunan — merujuk pada inkarnasi dewa Hindu seperti Rama dan Krishna ke dunia fana. Konsep inilah yang menjadi tulang punggung semesta Avatar: The Last Airbender (ATLA) dan sekuelnya The Legend of Korra (TLOK): setiap avatar baru adalah kelanjutan jiwa dari avatar sebelumnya.

Di Nusantara, konsep ini bukan hal baru. Jauh sebelum ATLA tayang perdana pada 2005, leluhur kita sudah memegang teguh konsep “nitis” atau “titisan.” Kata titis sendiri berarti tetesan air yang jatuh membasahi tanah di bawahnya — sebuah metafora tentang jiwa dewa atau leluhur yang turun meresap ke dalam raga generasi penerus.

Ini bukan sekadar kepercayaan lisan. Prasasti Hantang (1135 M) mencatat dengan tegas bahwa Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri adalah Madhusudanāwatārā — titisan Dewa Wisnu. Gelar lengkapnya terpahat dalam batu: Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. 

Ilustrasi Prasasti Hantang (1135 M) dari era Raja Jayabaya, Kerajaan Kediri — salah satu bukti tertulis tertua konsep nitis (titisan) dalam budaya Nusantara.

Hingga hari ini, kita masih menyebut seseorang yang mewarisi bakat luar biasa sebagai “titisan” sang kakek.

Sriwijaya: Guru Dunia yang Terlupakan di Negeri Sendiri

Konsep nitis memiliki kembaran spiritualnya di Tibet: tulku. Para guru besar Buddha yang telah mencapai pencerahan memilih tetap terlahir kembali di samsara. Bukan karena belum bebas, melainkan karena welas asih mereka pada seluruh makhluk.

Dan justru di sinilah Nusantara memainkan peran yang selama ini terlupakan. Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, mahaguru dari Kerajaan Sriwijaya, memegang silsilah ajaran Bodhicitta — batin yang bercita-cita mencapai kebuddhaan demi kebahagiaan seluruh makhluk. Kemasyhurannya menarik para cendekiawan dari India untuk berlayar jauh ke Sumatra.

Salah satu yang datang adalah Guru Atisha Dipamkara Srijnana, pandita besar dari Bengali, India. Ia rela menempuh perjalanan laut selama 13 bulan dari India ke Sriwijaya, lalu tinggal dan belajar selama sekitar 12 tahun di sana. Dari Guru Suwarnadwipa, Atisha mewarisi ajaran Bodhicitta secara utuh, yang kemudian ia tuangkan dalam teks Bodhipathapradīpa (Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan) — fondasi penting tradisi Lamrim yang hingga kini menjadi tulang punggung spiritualitas Tibet.

3. Ilustrasi kompleks Candi Muaro Jambi, yang diyakini sebagai pusat monastik Sriwijaya tempat Guru Suwarnadwipa Dharmakirti mengajarkan Bodhicitta kepada para cendekiawan dari berbagai penjuru Asia.

Suku Bajo: Bukan Sekadar “Orang Laut”

Lompat ke era sinema modern. Untuk Avatar: The Way of Water, James Cameron menghabiskan waktu panjang meneliti suku-suku maritim dunia. Pencariannya berakhir di Indonesia. 

Dalam wawancara bersama National Geographic, ia menyatakan: “Terdapat orang laut di Indonesia yang tinggal di rumah panggung dan hidup di atas rakit. Kami melihat hal-hal seperti itu, dan kami melihat beberapa desa dengan jalur air yang menggunakan arsitektur pepohonan lokal.”

Hasilnya, Suku Metkayina — klan Na’vi penguasa samudra Pandora — lahir dengan inspirasi langsung dari Suku Bajo (Bajau/Sama) Indonesia.

Yang membuat Suku Bajo benar-benar luar biasa bukan hanya budayanya, melainkan tubuh mereka sendiri. 

Penelitian Melissa Ilardo dkk. dari University of Copenhagen, yang diterbitkan di jurnal Cell (2018), menemukan bahwa orang Bajo memiliki limpa rata-rata 50 persen lebih besar dari manusia pada umumnya. Limpa yang lebih besar berfungsi sebagai “cadangan oksigen” alami saat menyelam — berkontraksi dan melepaskan jutaan sel darah merah ke aliran darah. 

Adaptasi ini bukan hasil latihan semata, melainkan perubahan genetik ribuan tahun yang diturunkan lintas generasi, bahkan pada anggota Bajo yang tidak pernah menyelam sekalipun.

Mereka mampu menyelam hingga kedalaman 60 meter hanya dengan satu tarikan napas — tanpa tabung oksigen, tanpa alat bantu modern.

Warisan yang Tak Perlu Menunggu Pengakuan Dunia

Dari prasasti Hantang yang memahat nama titisan Wisnu, dari Sriwijaya yang menjadi kiblat spiritual Asia, hingga Suku Bajo yang tubuhnya sendiri menjadi bukti evolusi manusia yang masih berjalan — Nusantara adalah rahim peradaban yang terlalu kaya untuk sekadar jadi catatan kaki sejarah dunia.

Bahwa dua karya pop culture terbesar abad ini meminjam rohnya dari sini bukan kebetulan. Itu konfirmasi. Kini tugas kita bukan lagi menunggu dunia mengakui — melainkan mengenali warisan itu lebih dalam sebelum kita mengaku tidak pernah tahu.***


Sumber Rujukan:

Konsep Avatar, Nitis, dan Tulku

  1. Wilanda, Silvi. “Antara Avatar, Tulku, dan Nusantara.” Buddhazine, 26 April 2024. https://buddhazine.com/antara-avatar-tulku-dan-nusantara/ 
  2. “Tulku: Kupas Fenomena ‘Buddha Hidup’ dalam Buddhisme Tibet.” Lamrimnesia, 21 Januari 2025. https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/ 
  3. “Avatar.” Wikipedia Bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Avatar 

Prasasti Hantang dan Raja Jayabaya

  1. “Prasasti Ngantang.” Wikipedia Bahasa Indonesia, diperbarui 23 November 2025. https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Ngantang
  2. “Jayabaya.” Wikipedia (English). https://en.wikipedia.org/wiki/Jayabaya 
  3. “Mengapa Jayabaya Dianggap sebagai Titisan Dewa Wisnu?” Okezone Nasional, 24 Agustus 2023. https://nasional.okezone.com/read/2023/08/24/337/2869973/mengapa-jayabaya-dianggap-sebagai-titisan-dewa-wisnu 

Guru Suwarnadwipa dan Atisha

  1. “Dari Mana Datangnya Lamrim?” Lamrimnesia, 20 Januari 2020. https://lamrimnesia.org/2020/01/20/dari-mana-datangnya-lamrim/ 
  2. “Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur.” Lamrimnesia, 3 November 2024. https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/ 
  3. Dagpo Rinpoche. Bodhipathapradipa: Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan. YPPLN. https://play.google.com/store/books/details/Bodhipathapradipa_Pelita_Sang_Jalan_Menuju_Pencera?id=K5mWDwAAQBAJ 
  4. “Bodhipathapradīpa.” Wikipedia (English). https://en.wikipedia.org/wiki/Bodhipathaprad%C4%ABpa 

Suku Bajo dan James Cameron

  1. “Film ‘Avatar The Way of Water’ Terinspirasi dari Indonesia, Ini Kata Sutradara.” Kompas.com, 22 Desember 2022. https://www.kompas.com/tren/read/2022/12/22/080500565/film-avatar-the-way-of-water-terinspirasi-dari-indonesia-ini-kata-sutradara 
  2. “Mengenal Suku Bajo di Indonesia, Jadi Inspirasi Film ‘Avatar The Way of Water’.” Kompas.com, 22 Desember 2022. https:// www.kompas.com/tren/read/2022/12/22/163000765/mengenal-suku-bajo-di-indonesia-jadi-inspirasi-film-avatar-the-way-of-water
  3. “5 Fakta Suku Bajo, Jadi Inspirasi di Film Avatar 2: Way of Water.” Detik.com, 21 Desember 2022. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6473033/5-fakta-suku-bajo-jadi-inspirasi-di-film-avatar-2-way-of-water 

Adaptasi Genetik Suku Bajo

  1. Ilardo, Melissa A., et al. “Physiological and Genetic Adaptations to Diving in Sea Nomads.” Cell 173, no. 3 (2018): 569–580. https://doi.org/10.1016/j.cell.2018.03.054 
  2. “Suku Bajo, Manusia Pertama yang Beradaptasi Genetik untuk Menyelam.” Kompas Sains, 22 April 2018. https://sains.kompas.com/read/2018/04/22/120500923/suku-bajo-manusia-pertama-yang-beradaptasi-genetik-untuk-menyelam 
  3. “Adaptasi Gen Orang Bajo.” BSKDN Kemendagri, 26 April 2018. https://bskdn.kemendagri.go.id/website/adaptasi-gen-orang-bajo/