“Ini tasawuf yang tidak lari dari dunia, tetapi membangunnya,” ujarnya dalam salah satu analisis mengenai peran thoriqoh dalam penguatan masyarakat sipil.

Neo-Sufisme, dalam konteks ini, bukan sekadar istilah akademik. Ia menemukan bentuk konkret dalam rumah-rumah yang berdiri, dalam gotong royong yang terorganisir, dalam keyakinan bahwa pembangunan fisik dapat menjadi laku spiritual.

Iman sebagai Energi Pembangunan

Efektivitas gerakan ini terletak pada transformasi makna. Nasionalisme yang sering terasa jauh dan formal dipindahkan ke ruang ritual yang sakral. Ketika seorang jamaah memikul pasir atau mengaduk semen, ia tidak merasa sedang kerja bakti biasa. Ia merasa sedang berzikir.

Dari sinilah energi kolektif itu lahir. Ribuan rumah bisa dibangun tanpa upah karena penggeraknya bukan insentif material, melainkan keyakinan teologis. Setiap tindakan sosial dipahami sebagai ibadah.

Di tengah lanskap Indonesia yang kerap diwarnai tarik-menarik antara identitas keagamaan dan kebangsaan, Shiddiqiyyah memilih jalur sintesis. Mereka tidak memisahkan keduanya. Mereka meleburkannya.

Ploso mungkin hanya satu titik kecil di peta Jawa Timur. Namun dari sana, sebuah model kewarganegaraan religius sedang dipraktikkan—bahwa membangun bangsa bisa menjadi bagian dari jalan menuju Tuhan.

Dan di tangan mereka, zikir tidak hanya menggema di langit-langit masjid. Ia berdiri kokoh, menjadi rumah.***