Strategi yang mengingatkan kita pada lompatan kemandirian Tiongkok ini membuktikan satu hal: sanksi ekonomi tidak menghancurkan Iran, melainkan memaksa mereka menjadi inovator militer yang mandiri. Ketika negara-negara Barat bergantung pada rantai pasok global yang rapuh, Iran memproduksi senjata mematikannya sendiri.

Kepemimpinan Baru, Semangat yang Sama
Gugurnya Ayatollah Ali Khamenei di awal perang bisa saja menciptakan kekosongan kekuasaan yang menguntungkan musuh. Namun, sikap heroiknya yang menolak berlindung justru membakar semangat perlawanan rakyat Iran.
Kini, tongkat estafet beralih kepada putranya, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Meski tidak sering tampil di hadapan publik, latar belakangnya sebagai akademisi senior dan pemahamannya yang mendalam tentang urusan militer serta kebijakan luar negeri memastikan tidak akan ada langkah mundur. Pesan pertamanya yang menuntut pampasan perang mempertegas bahwa transisi kepemimpinan ini sama sekali tidak melunakkan postur perlawanan Teheran.
Bumerang Politik bagi Washington
Di sisi lain lautan, perang ini menjadi mimpi buruk politik bagi Presiden Donald Trump. Menjelang pemilihan sela November 2026, janji kampanyenya untuk tidak lagi memulai perang telah menguap. Tekanan dari lobi Zionis telah menyeret AS ke dalam konflik yang menguras anggaran, memicu lonjakan harga energi, dan memperburuk inflasi. Tawaran negosiasi diam-diam dari AS yang ditolak Iran membuktikan bahwa Washington sedang putus asa mencari jalan keluar dari perang yang tak bisa mereka menangkan dengan cepat.
Wawancara Mohammad Marandi membuka mata kita bahwa tatanan dunia unipolar sedang menemui ajalnya. Keberhasilan Iran menembus pertahanan sekutu militer terkuat di dunia bukan sekadar kemenangan regional, melainkan simbol perlawanan bagi negara-negara yang selama ini berada di bawah bayang-bayang imperialisme.
Perang ini tentu saja membawa tragedi kemanusiaan yang mendalam. Namun, secara historis, kerusakan pada reputasi militer AS dan Israel saat ini tampaknya tidak dapat diubah lagi. Dunia sedang mencatat: mitos negara adidaya yang tak terkalahkan telah runtuh di Asia Barat.***



Tinggalkan Balasan