Benturan Batasan Etis
Akar masalah dari drama pelarangan ini sejatinya bermula dari benturan prinsip antara korporasi dan militer. Anthropic secara konsisten menolak tuntutan Pentagon yang menginginkan hak akses AI tanpa batas. Perusahaan ini bersikeras memegang teguh pedoman “garis merah” etis mereka.
Dalam aturan perusahaan, AI dilarang keras digunakan untuk aktivitas pengawasan massal terhadap warga sipil domestik. Lebih jauh lagi, AI tidak diizinkan untuk mengoperasikan persenjataan otonom penuh tanpa adanya kendali langsung dari manusia.
Sikap tegas ini memicu reaksi keras dari jajaran kabinet. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, sempat memanggil CEO Anthropic, Dario Amodei, pada 24 Februari 2026. Hegseth memberikan batas waktu ultimatum hingga 27 Februari untuk segera mencabut semua pembatasan AI tersebut.
Namun, Anthropic memilih untuk mempertahankan prinsip mereka dan menolak ultimatum tersebut menjelang malam hari di tanggal yang sama.
Buntut dari penolakan ini, Presiden Donald Trump turun tangan langsung dan memerintahkan seluruh agen federal menghentikan pemakaian Anthropic. Menhan Hegseth bahkan menyematkan label risiko keamanan nasional kepada perusahaan tersebut.
Dario Amodei merespons keras tindakan pemerintah tersebut. “Kami memiliki dua garis merah ini. Kami telah memilikinya sejak hari pertama. Kami tidak akan bergeser dari garis merah tersebut. Kekecewaan ini terasa sangat menghukum dan bersifat balasan, mengingat banyaknya hal yang telah kami lakukan untuk keamanan nasional AS,” tegas Amodei, dalam wawancara eksklusif bersama CBS News pada 1 Maret 2026.***




1 Komentar