Memberontak bukan berarti merusak, melainkan berani menciptakan makna sendiri tanpa terjebak ekspektasi berlebih, rutinitas mekanis, atau keputusasaan.

KOSONGSATU.ID — Pernahkah Anda bangun di pagi hari, menatap cermin, lalu bertanya pada diri sendiri untuk apa sebenarnya melakukan semua ini? Setiap hari kita menjalani pola yang hampir sama secara berulang.

Kita bangun jam sekian, berangkat kerja atau kuliah, menatap layar gawai berjam-jam, pulang saat malam, tidur, lalu mengulangnya lagi besok. Orang tua kita dulu bekerja keras agar kita bisa kuliah, kita kuliah dan bekerja agar anak kita nanti bisa sekolah, dan anak kita kelak akan melakukan hal yang sama untuk cucu kita.

Kalau semuanya berkorban demi masa depan orang lain, lalu siapa yang sebenarnya menikmati dan sukses menjalani hidup saat ini? Situasi hidup yang terasa monoton ini bukan sekadar kejenuhan biasa. Ini adalah jerat budaya serba cepat dan mekanisme hidup modern yang mengubah manusia menjadi seperti robot.

Situasi keterjebakan rutinitas ini digambarkan oleh Albert Camus lewat mitologi Sisyphus. Sisyphus dihukum oleh para dewa untuk mendorong batu besar ke puncak gunung, namun setiap kali batu itu hampir mencapai puncak, batu tersebut menggelinding kembali ke bawah.

Camus menyebut inilah gambaran absurditas: konfrontasi antara kerinduan mendalam manusia akan makna, dengan realitas dunia yang irasional serta tidak memberikan jawaban mutlak. Ketika berhadapan dengan absurditas hidup, Camus mencatat tiga jalan yang biasa diambil manusia:

  • Bunuh Diri Fisik: Menyerah dan mengakhiri hidup karena merasa putus asa, yang dilarang keras oleh Camus karena dianggap tindakan melarikan diri dari realitas.
  • Bunuh Diri Filosofis: Melarikan diri dengan pasrah total pada ilusi atau harapan semu tanpa mau lagi berpikir rasional.
  • Menerima Tanpa Menyerah: Mengakui bahwa hidup ini memang serba acak dan tidak pasti, tetapi tetap memilih untuk melangkah serta menikmatinya dengan tenang.

Membangkitkan Elan Vital dan Pemberontakan Eksistensial

Jika Camus mengidentifikasi absurditas dan rutinitas mekanis, Henri Bergson memberikan obat pembakar semangat melalui konsep Elan Vital atau Daya Hidup. Menurut Bergson, salah satu penyebab utama manusia merasa jenuh adalah karena kita menjalani hidup secara mekanis berdasarkan ingatan hafalan semata.

Akal rasional memang berguna untuk urusan praktis seperti kalkulasi finansial atau pekerjaan teknis, tetapi tidak sanggup menyelami hakikat batin dan makna kehidupan. Untuk menembus ketertutupan itu, Bergson menawarkan dua modal utama, yakni intuisi berbasis kesadaran waktu batiniah (durée) serta Elan Vital sebagai dorongan energi kreatif dari dalam diri.

Gagasan René Descartes menyatakan bahwa manusia ada karena berpikir. Namun, Camus memperbaruinya: jika kita berpikir hanya ikut-ikutan kerumunan atau mengekor standar massa, kita belum benar-benar eksis sebagai diri sendiri. Dari sini lahir adagium terkenal: I rebel, therefore I exist—Aku memberontak, maka aku ada.

“Memberontak” di sini bukan berarti membuat kerusuhan fisik di jalanan. Pemberontakan yang dimaksud Camus adalah berani bebas dari belenggu standar normal masyarakat, menjadi subjek yang menciptakan maknanya sendiri, serta mengubah emosi pasif menjadi karya kreatif.

Bagaimana cara membumikan kombinasi pemikiran ini pada Juli 2026? Langkah awal adalah mengevaluasi standar kenormalan diri, mengaktifkan daya hidup lewat kesadaran saat ini, serta mencuri waktu untuk menyendiri dari kebisingan.

Eksis berarti berubah, berubah berarti matang, dan matang berarti terus-menerus menciptakan diri sendiri tanpa henti. Hidup mungkin akan terasa monoton jika kita memilih menjalani peran sebagai robot di panggung absurditas. Namun saat kita berani membangkitkan daya hidup dan mempercayai intuisi, di situlah kita benar-benar ada.***