Akal rasional memang berguna untuk urusan praktis seperti kalkulasi finansial atau pekerjaan teknis, tetapi tidak sanggup menyelami hakikat batin dan makna kehidupan. Untuk menembus ketertutupan itu, Bergson menawarkan dua modal utama, yakni intuisi berbasis kesadaran waktu batiniah (durée) serta Elan Vital sebagai dorongan energi kreatif dari dalam diri.

Gagasan René Descartes menyatakan bahwa manusia ada karena berpikir. Namun, Camus memperbaruinya: jika kita berpikir hanya ikut-ikutan kerumunan atau mengekor standar massa, kita belum benar-benar eksis sebagai diri sendiri. Dari sini lahir adagium terkenal: I rebel, therefore I exist—Aku memberontak, maka aku ada.

“Memberontak” di sini bukan berarti membuat kerusuhan fisik di jalanan. Pemberontakan yang dimaksud Camus adalah berani bebas dari belenggu standar normal masyarakat, menjadi subjek yang menciptakan maknanya sendiri, serta mengubah emosi pasif menjadi karya kreatif.

Bagaimana cara membumikan kombinasi pemikiran ini pada Juli 2026? Langkah awal adalah mengevaluasi standar kenormalan diri, mengaktifkan daya hidup lewat kesadaran saat ini, serta mencuri waktu untuk menyendiri dari kebisingan.

Eksis berarti berubah, berubah berarti matang, dan matang berarti terus-menerus menciptakan diri sendiri tanpa henti. Hidup mungkin akan terasa monoton jika kita memilih menjalani peran sebagai robot di panggung absurditas. Namun saat kita berani membangkitkan daya hidup dan mempercayai intuisi, di situlah kita benar-benar ada.***