Cak Nun menyoroti kegagalan sistem modern Indonesia mengenali peran spiritual Wali dan pentingnya menjaga akar budaya lokal.
KOSONGSATU. ID – Budaya lokal dan negara sering kali berdiri di persimpangan jalan yang membingungkan. Lewat pandangannya yang tajam dalam sebuah video bertajuk “Mbah Nun: Mengapa Indonesia Tidak Menghargai Wali?” yang diunggah di kanal YouTube CakNun.com, pada hari Rabu, 8 Juli 2026, budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun mengurai benang kusut hubungan antara spiritualitas, budaya Mandar, dan eksistensi negara Indonesia.
Batas Administratif dan Akar Peradaban
Cak Nun mengingatkan masyarakat Mandar agar membangun kesadaran ganda saat berhadapan dengan negara. Ia melihat hubungan antara wilayah kebudayaan dan negara sebatas ikatan administratif dan teritorial semata.
Negara Indonesia belum memiliki peradaban yang matang jika kita membandingkannya dengan entitas suku yang sudah berakar kuat selama berabad-abad.
Oleh karena itu, masyarakat harus mengelola hubungan ini secara simbiosis mutualisme. Langkah ini penting agar sistem nasional tidak mengeksploitasi kekayaan alam dan identitas lokal Mandar.
Kebutaan Sistem Modern Terhadap Wali
Sistem pendidikan dan tata kelola modern turut mendapat sorotan tajam. Cak Nun menegaskan bahwa pemerintah pusat, kaum intelektual, hingga kurikulum nasional sering luput memahami apalagi mengakui eksistensi “Wali”.
“Indonesia, baik pemerintah pusat, presiden, hingga kaum intelektual dan kurikulum nasional, tidak memahami dan tidak mengakui eksistensi Wali,” urai Cak Nun menyentil dangkalnya sistem modern. Kurikulum nasional saat ini sekadar mengajarkan agama secara teknis dan historis.
Padahal, dimensi spiritual seperti kenabian (Nubuwah) dan kewalian (Walayah) memegang peran sangat vital. Salah satu contoh nyatanya adalah penghormatan mendalam masyarakat Mandar terhadap Waliullah Imam Lapeo.
Membaca Algoritma Spiritual
Menariknya, Cak Nun membawa analogi modern untuk menjelaskan konsep takdir. Ia menyamakan ketetapan Allah dengan “algoritma”. Allah menganugerahkan hidayah layaknya sebuah sistem operasi (software) penerima. Tentu saja, kapasitas spiritual seorang Wali melampaui manusia biasa.
Saat warga mendatangi masjid Imam Lapeo, mereka tidak sedang mempraktikkan takhayul. Mereka justru sedang menjalankan algoritma rohaniah untuk menjemput rahmat dan kasih sayang Tuhan.
Mendefinisikan Ulang Wisata Spiritual
Lebih lanjut, arus pariwisata modern sering menjebak masyarakat dalam pusaran kapitalisme dan materialisme. Wisata spiritual kerap menyempit menjadi sekadar kunjungan fisik ke bangunan bersejarah yang manusia ukur dari megahnya arsitektur semata. Padahal, peninggalan tokoh sekaliber Imam Lapeo bukan sekadar benda mati, melainkan nilai keluhuran rohaniah.
Para penggerak pariwisata wajib merumuskan panduan jitu untuk mentransfer nilai spiritual ini ke dalam nalar para wisatawan.
Menjaga Hierarki Identitas
Menutup pandangannya, Cak Nun mengajak publik menata ulang hierarki identitas: sebagai orang Islam, orang Mandar, barulah orang Indonesia. Kemampuan meramu ketiga identitas ini memastikan masyarakat lokal tidak kehilangan akar spiritualnya saat menghadapi gempuran zaman modern yang sering kali hampa nilai.
Nasihat Cak Nun menjadi alarm penting bagi identitas bangsa. Kita tidak boleh membiarkan teknokrasi modern menggerus warisan spiritual dan peradaban luhur Nusantara yang sesungguhnya menjadi fondasi sejati masyarakat.***





Tinggalkan Balasan