Mendefinisikan Ulang Wisata Spiritual
Lebih lanjut, arus pariwisata modern sering menjebak masyarakat dalam pusaran kapitalisme dan materialisme. Wisata spiritual kerap menyempit menjadi sekadar kunjungan fisik ke bangunan bersejarah yang manusia ukur dari megahnya arsitektur semata. Padahal, peninggalan tokoh sekaliber Imam Lapeo bukan sekadar benda mati, melainkan nilai keluhuran rohaniah.
Para penggerak pariwisata wajib merumuskan panduan jitu untuk mentransfer nilai spiritual ini ke dalam nalar para wisatawan.
Menjaga Hierarki Identitas
Menutup pandangannya, Cak Nun mengajak publik menata ulang hierarki identitas: sebagai orang Islam, orang Mandar, barulah orang Indonesia. Kemampuan meramu ketiga identitas ini memastikan masyarakat lokal tidak kehilangan akar spiritualnya saat menghadapi gempuran zaman modern yang sering kali hampa nilai.
Nasihat Cak Nun menjadi alarm penting bagi identitas bangsa. Kita tidak boleh membiarkan teknokrasi modern menggerus warisan spiritual dan peradaban luhur Nusantara yang sesungguhnya menjadi fondasi sejati masyarakat.***



Tinggalkan Balasan