Negara-negara anggota BRICS tengah mematangkan pembentukan bursa perdagangan logam mulia dan gandum sebagai langkah strategis memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan global yang didominasi Barat.
KOSONGSATU. ID– Peta ekonomi global bersiap menghadapi guncangan baru. Negara-negara anggota BRICS kini tengah mempercepat pembentukan bursa perdagangan logam mulia dan gandum sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan yang didominasi Barat. Inisiatif ini bukan sekadar wacana, melainkan upaya sistematis untuk menciptakan infrastruktur harga tandingan bagi komoditas vital dunia.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov, dalam wawancara dengan TASS, Minggu (15/2/2026), mengonfirmasi bahwa inisiatif ini berjalan beriringan dengan rencana penguatan penggunaan mata uang nasional dalam transaksi lintas negara.
”Ada inisiatif baru-baru ini, tetapi sangat penting, untuk membentuk bursa logam mulia, bersamaan dengan bursa gandum. Ada semua alasan dan prasyarat untuk munculnya sesuatu yang konkret,” ujar Ryabkov.
Langkah ini dinilai krusial di tengah volatilitas pasar emas dan perak global awal tahun ini, di mana fluktuasi harga yang tajam mendorong negara produsen mencari mekanisme perdagangan yang lebih stabil, transparan, dan bebas dari risiko sanksi geopolitik.
Mengubah Peta: Dari “Price Taker” Menjadi “Price Maker”
Rencana BRICS ini didukung oleh fundamental yang kuat. Data World Gold Council hingga awal 2026 mencatat bahwa bank sentral negara-negara BRICS (termasuk anggota baru) secara kolektif memegang lebih dari 22% cadangan emas resmi dunia. Di sektor pangan, kelompok ini menguasai sekitar 44% produksi gandum global.
Direktur Eksekutif Center for Global Commodity Studies, Dr. Aris Prasetyo, menilai dominasi sisi suplai ini adalah “kartu As” yang memungkinkan BRICS mengubah aturan main perdagangan internasional.
”Selama puluhan tahun, ada ketimpangan di mana negara BRICS memiliki sumber daya (emas, perak, gandum), namun harga ditentukan di London (LME) atau New York (COMEX). Jika bursa ini terwujud, ini adalah game changer. BRICS tidak lagi hanya menjadi pengikut harga (price taker), tetapi bertransformasi menjadi penentu harga (price maker),” analisis Aris saat dihubungi terpisah.
Infrastruktur Keuangan Tandingan
Meski isu mata uang tunggal BRICS sempat meredup karena kompleksitasnya, fokus blok ekonomi ini beralih ke pembangunan infrastruktur pembayaran yang lebih pragmatis. Pengamat Perbankan dan Keuangan Internasional, Elena Wu, menyebut bursa logam mulia ini akan berfungsi sebagai underlying asset kepercayaan bagi sistem pembayaran mata uang nasional yang sedang dibangun.




Tinggalkan Balasan