Prabowo bilang Indonesia aman karena warga desa tidak pakai dolar. Faktanya, dolar tidak perlu masuk ke dompet petani untuk bikin hidupnya makin berat. Ia masuk lewat harga BBM, kedelai, pupuk, dan cicilan. Lalu siapa yang benar-benar aman?


KOSONGSATU.ID – Sabtu, 16 Mei 2026. Di Nganjuk, Jawa Timur, Presiden Prabowo Subianto naik podium dan bilang sesuatu yang langsung ramai diperbincangkan: “Orang, rakyat di desa gak pake dolar kok.” Pernyataan itu ia sampaikan untuk merespons kekhawatiran publik soal rupiah yang sudah jeblok ke level Rp17.600 per dolar AS.

Pangan aman, energi aman, Indonesia oke — begitu kira-kira pesannya.

Secara teknis? Dia tidak salah. Petani di Blitar beli beras pakai rupiah. Pedagang pasar di Garut terima pembayaran pakai rupiah. Tidak ada transaksi dolar di sana.

Tapi ada satu masalah besar: dolar tidak perlu masuk ke dompet seseorang untuk bikin hidupnya lebih susah.

Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). INSTAGRAM @presidenrepublikindonesia

Kenapa Dunia Susah Lepas dari Dolar?

Sebelum nyambungin ke situasi Indonesia, perlu ngerti dulu kenapa mata uang dunia kayak tersandera sama dolar.

Jawabannya punya akar sejarah yang panjang. Sejak Bretton Woods 1944, dolar jadi mata uang cadangan global. Negara-negara dunia mematok nilai mata uang mereka ke dolar, sementara dolar sendiri dipatok ke emas. Bahkan setelah Amerika Serikat meninggalkan standar emas pada 1971, negara-negara tetap bertahan pakai dolar — karena tidak ada alternatif yang cukup stabil.

Yang bikin dolar makin kokoh adalah sistem petrodolar. Singkatnya: minyak dijual dalam dolar. Kalau suatu negara mau beli minyak, mereka butuh dolar. Kalau butuh dolar, mereka harus punya cadangan dolar. Lingkaran ini menciptakan permintaan global yang konstan terhadap dolar — dan memberi Amerika Serikat pengaruh luar biasa atas sistem keuangan global.

Bayangkan sebuah pedagang Brasil yang jual kedelai ke perusahaan kondimen Jepang. Perusahaan Jepang itu tidak punya real Brasil. Pedagang Brasil tidak terima yen Jepang. Keduanya pakai dolar sebagai bahasa tengah — begitu cara transaksi lintas negara selama puluhan tahun bekerja.

Hasilnya: dolar menguasai sekitar 88% transaksi di pasar valuta asing global. Meski porsinya dalam cadangan devisa global sudah turun dari 65% (2016) menjadi sekitar 59% (2024), posisinya belum tergoyahkan.

Apa yang Terjadi Kalau Lepas dari Dolar?

Dedolarisasi — istilah kerennya — bukan hal baru. Rusia, China, India, Brasil, bahkan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia sudah mulai bergerak ke arah sana.

Tapi “bergerak ke arah sana” beda jauh dengan “sudah lepas.”

Tidak ada satu pun negara yang benar-benar menghapus dolar dari seluruh penggunaannya. Bahkan Rusia dan China yang paling agresif mendedolarisasi pun masih bergantung pada likuiditas dolar dalam cadangan devisa dan transaksi ekspor mereka.

Yang bikin negara-negara takut untuk lepas total? Beberapa risiko ini:

Pertama, akses ke pasar modal global jadi terbatas. Banyak instrumen keuangan internasional masih berdenominasi dolar — obligasi, pembiayaan impor, utang luar negeri. Lepas dari dolar berarti biaya transaksi naik dan likuiditas mengering.

Kedua, sistem keuangan global belum punya pengganti yang sepadan. Euro ada, yuan ada, tapi belum ada yang punya kedalaman pasar, likuiditas, dan kepercayaan setara dolar. Seperti kata peneliti Allianz, perubahan signifikan masih butuh waktu sangat lama.

Ketiga — dan ini yang paling mengkhawatirkan — sanksi finansial bisa jadi senjata. Barat membekukan hampir USD 300 miliar cadangan devisa Rusia setelah invasi Ukraina 2022. Ini jadi peringatan keras bagi banyak negara: kalau terlalu bergantung pada sistem berbasis dolar, sewaktu-waktu aset bisa dibekukan begitu saja.

Tapi justru kejadian Rusia itu yang bikin banyak negara makin serius mendedolarisasi — ironisnya, bukan untuk melawan AS, tapi untuk melindungi diri sendiri.

Indonesia: Mau Lepas, tapi Belum Bisa

Sebenarnya Indonesia sudah mulai bergerak. Bank Indonesia mengakselerasi skema Local Currency Transaction (LCT) — transaksi bilateral pakai mata uang masing-masing negara tanpa perlu konversi ke dolar dulu. Nilai transaksi LCT Indonesia tumbuh 50% sepanjang Januari–Agustus 2024 dibanding tahun sebelumnya.

Prabowo sendiri mengeluarkan kebijakan wajib simpan 100% Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri mulai Maret 2025. Target: USD 80 miliar masuk ke pasar keuangan domestik dalam setahun. Kebijakan ini justru menunjukkan betapa dolar masih sangat sentral bagi Indonesia — sampai pemerintah perlu memaksa eksportir agar tidak menyimpan dolar mereka di luar negeri.

Indonesia juga bergabung ke BRICS — blok ekonomi yang salah satu cita-citanya adalah mengurangi dominasi dolar. Tapi para pengamat mengingatkan: bergabung ke BRICS tidak otomatis membuat Indonesia bebas dari dolar. Faktanya, 60% perdagangan dunia masih menggunakan dolar, dan menurut ekonom CELIOS Bhima Yudhistira, dibutuhkan berpuluh-puluh tahun untuk menggeser posisi dolar sebagai mata uang utama transaksi antarnegara.

Kembali ke Desa: Benarkah Aman?

Oke, balik ke klaim Prabowo. Betul bahwa petani desa tidak transaksi pakai dolar. Tapi begini cara dolar tetap mempengaruhi kehidupan mereka, bahkan tanpa selembar greenback pun menyentuh tangan mereka:

BBM. Indonesia adalah net importir minyak sejak 2004. Kebutuhan minyak mencapai 1,6 juta barel per hari, tapi produksi domestik hanya 650 ribu barel. Lebih dari separuh kebutuhan dibeli dari luar negeri — dibayar pakai dolar. Ketika rupiah melemah ke Rp17.600, harga impor minyak itu otomatis melonjak dalam denominasi rupiah, dan tekanan kenaikan harga BBM nonsubsidi tinggal menunggu waktu saja.

Lebih parah lagi: asumsi APBN 2026 menetapkan kurs Rp16.500 per dolar dan harga minyak USD 70 per barel. Kenyataannya sekarang? Rupiah di Rp17.600 dan minyak dunia di USD 105 per barel. Beban impor energi kena tekanan ganda dari dua sisi sekaligus.

Bahan pangan. Gandum, kedelai, bawang putih, susu — semua masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, biaya impor komoditas itu naik. Tahu dan tempe yang dimakan warga desa berasal dari kedelai yang harganya ditentukan oleh kurs dolar. Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet bilang tegas: dampak pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak saling memperkuat, bukan berdiri sendiri.

Efek berantai. Ekonom CELIOS Nailul Huda memperingatkan, kenaikan harga tidak berhenti di tahu-tempe. Ia merembet ke biaya distribusi, bahan baku industri, dan barang konsumsi. “Dampaknya bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat, mulai dari penjual gorengan hingga pengusaha,” kata Huda. Inflasi dari impor diperkirakan mulai terasa dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Yang Rentan Justru yang Paling Tidak Terlihat

Ada ironi besar di sini. Kelas menengah punya cara melindungi diri dari gejolak kurs: beli dolar, investasi emas, diversifikasi portofolio. Mereka punya ruang gerak.

Warga desa? Mereka tidak punya lindung nilai. Tidak ada tabungan dolar, tidak ada aset yang naik ketika rupiah turun. Yang mereka punya adalah pengeluaran harian — yang harganya akan naik mengikuti kurs, bahkan jika mereka tidak pernah menyentuh selembar dolar seumur hidup.

Jadi pernyataan “rakyat desa tidak pakai dolar” itu secara teknis benar, tapi secara struktural menyesatkan. Dolar tidak perlu ada di dompet seseorang untuk menggerus daya beli mereka. Ia bekerja diam-diam, lewat rantai pasok, harga energi, dan bahan pangan — sebelum akhirnya sampai di meja makan warga desa dalam bentuk tempe yang makin tipis dan minyak goreng yang makin mahal.

Dedolarisasi itu Perlu, tapi Butuh Waktu

Cita-cita Indonesia untuk tidak terlalu bergantung pada dolar itu sah dan perlu. LCT, BRICS, bilateral swap — semuanya langkah yang benar. Tapi antara cita-cita dan realita, ada jarak yang jujur harus diakui.

Selama Indonesia masih impor minyak lebih dari separuh kebutuhannya, selama APBN masih dihitung dalam asumsi kurs dolar, selama utang luar negeri masih berdenominasi dolar — maka setiap kali dolar naik, seluruh lapisan masyarakat merasakan dampaknya. Termasuk warga desa yang tidak pernah sekalipun memegang uang hijau itu.

Menyebut mereka “aman” karena tidak pakai dolar ibarat bilang seseorang tidak basah karena tidak berdiri di bawah hujan — padahal atap rumahnya sudah bocor.***


Daftar Rujukan

  • IDN Times. (16 Mei 2026). Prabowo Tanggapi Rupiah Rp17.600: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar. https://www.idntimes.com/business/economy/prabowo-tanggapi-rupiah-rp17-600-rakyat-desa-tak-pakai-dolar-00-rgfwk-cfzv17
  • Liputan6. (16 Mei 2026). Rupiah Melemah, Prabowo Pastikan Kondisi Indonesia Stabil. https://www.liputan6.com/amp/6646194/rupiah-melemah-prabowo-pastikan-kondisi-indonesia-stabil
  • Atlantic Council. (2024). Is the End of the Petrodollar Near? https://www.atlanticcouncil.org/blogs/econographics/is-the-end-of-the-petrodollar-near/
  • FX Open. (2024). What Is a Petrodollar and How Does It Affect the Global Economy? https://fxopen.com/blog/en/what-is-a-petrodollar-and-how-does-it-affect-the-global-economy/
  • U.S. News. (2026). De-Dollarization: What Would Happen if the Dollar Lost Reserve Currency Status? https://money.usnews.com/investing/articles/de-dollarization-what-happens-if-the-dollar-loses-reserve-status
  • EBC Financial Group. (2025). What Countries Dropped the US Dollar? https://www.ebc.com/forex/what-countries-dropped-the-us-dollar-full-list-and-amp-reasons
  • Allianz Economic Research. (2023). De-dollarization? Not So Fast… https://www.allianz.com/en/economic_research/insights/publications/specials_fmo/fx-reserves.html
  • Tempo Cek Fakta. (2024). Keliru, Indonesia Tinggalkan Dolar AS Setelah Bergabung dengan BRICS. https://cekfakta.tempo.co/fakta/3213/keliru-indonesia-tinggalkan-dolar-as-setelah-bergabung-dengan-brics
  • CNBC Indonesia. (April 2026). Indonesia Mulai Tinggalkan Dolar AS, Ini Buktinya! https://www.cnbcindonesia.com/research/20260414165852-128-726724/indonesia-mulai-tinggalkan-dolar-as-ini-buktinya
  • Bisnis.com. (September 2023). Dedolarisasi! Ini Negara ASEAN yang “Buang” Dolar AS Bareng Indonesia. https://m.bisnis.com/amp/read/20230907/11/1692583/dedolarisasi-ini-negara-asean-yang-buang-dolar-as-bareng-indonesia
  • Antara News. (15 Mei 2026). Pakar: Pelemahan Rupiah Pengaruhi Harga Bahan Baku Produk Impor. https://www.antaranews.com/berita/5569541/pakar-pelemahan-rupiah-pengaruhi-harga-bahan-baku-produk-impor
  • Babel Insight. (15 Mei 2026). Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar Ancam Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi. https://www.babelinsight.id/pelemahan-rupiah-harga-bbm-naik
  • Kompas.com. (15 Mei 2026). Rupiah Melemah, Begini Dampaknya ke Harga BBM dan Tiket Pesawat. https://money.kompas.com/read/2026/05/15/112402126/rupiah-melemah-begini-dampaknya-ke-harga-bbm-dan-tiket-pesawat
  • Harian Basis. (15 Mei 2026). Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Picu Lonjakan Inflasi Barang Impor. https://www.harianbasis.co/pelemahan-rupiah-pemicu-inflasi-impor
  • CNBC Indonesia. (Februari 2025). Kebijakan DHE Prabowo Bikin RI Kebanjiran Dolar! https://www.cnbcindonesia.com/market/20250217130454-17-611208/kebijakan-dhe-prabowo-bikin-ri-kebanjiran-dolar-target-2025-us-80-m