Nilai tukar rupiah terus tertekan eskalasi konflik Timur Tengah. Bank Indonesia optimalkan triple intervention, sementara ADB peringatkan risiko stagflasi jika harga energi terus melonjak.


KOSONGSATU.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah ke level Rp17.115 per dolar AS pada Jumat (10/4/2026). Tekanan ini dipicu eskalasi konflik Iran-AS yang memicu pelarian modal asing dan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah ditutup melemah signifikan dari posisi sepekan sebelumnya. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda sempat menyentuh level terendah di Rp17.113.

Selat Hormuz Belum Pulih, Rupiah Terus Tertekan

Pelemahan dipicu rentetan eskalasi konflik Timur Tengah. Gangguan di Selat Hormuz—jalur distribusi 20 persen minyak dunia—masih berlangsung meskipun ada pengumuman gencatan senjata sementara antara AS dan Iran.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ketidakpastian pasokan energi menjadi pemicu utama.

“Gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut dan ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah mengaburkan prospek pasokan energi karena jalur penting yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak global sebagian besar tetap terblokir,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).

Ia memperingatkan bahwa gangguan struktural pada rantai pasokan dan infrastruktur di kawasan tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki.

Analis: BI Perlu Jaga Stabilitas

Tekanan terhadap rupiah sempat mereda sejenak pada Rabu (8/4/2026) setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran. Rupiah sempat menguat 93 poin.

Namun, penguatan itu tak bertahan lama. Pada Kamis (9/4/2026), rupiah kembali melemah 80 poin ke level Rp17.092 . Kini, kurs terus merosot hingga menyentuh Rp17.115.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa investor bersiap menghadapi potensi eskalasi lebih lanjut. Ia menyinggung tenggat waktu yang diberikan Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi kunci menjaga kepercayaan publik dan industri. “BI perlu terus menjaga volatilitas,” ujar Lukman, dikutip dari ANTARA, Senin (7/4/2026).

ADB Peringatkan Risiko Stagflasi

Asian Development Bank (ADB) dalam laporan Asian Development Outlook April 2026 yang dikutip Indo Premier Sekuritas, Jumat (10/4/2026), memproyeksikan ekonomi Asia Tenggara masih dapat tumbuh 4,7 persen. Namun, syaratnya konflik Timur Tengah harus segera mereda.

“Risiko stagflasi meningkat jika konflik berkepanjangan dan harga energi melonjak,” tulis ADB dalam laporannya.

Stagflasi adalah kondisi ekonomi paling mengerikan: pertumbuhan stagnan atau melambat, tetapi inflasi justru meroket. Ini pernah terjadi pada krisis minyak 1970-an.

Inflasi Inti Terancam, Daya Beli Bisa Tergerus

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, pada Jumat (10/4/2026) menyoroti dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi inti. Menurutnya, peningkatan biaya input yang persisten akan menekan daya beli masyarakat.

“Konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang lebih persisten, dengan peningkatan biaya input yang dapat menekan inflasi inti,” ungkap Josua.

Pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026. Sejumlah pejabat bank sentral AS mulai membuka pendekatan “dua arah” dalam penentuan suku bunga. Kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin diperlukan apabila inflasi tetap berada di atas target.

BI Siapkan Triple Intervention

Bank Indonesia dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat (10/4/2026) menyatakan akan terus mengoptimalkan instrumen triple intervention (intervensi di pasar spot, DNDF, dan pasar surat berharga negara) untuk menjaga stabilitas rupiah.

Dengan ketidakpastian konflik yang masih tinggi, kolaborasi antara pemerintah dan bank sentral menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan kurs dan harga energi global. Rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp17.000 hingga Rp17.125 per dolar AS dalam jangka pendek.***