Berjuluk Singo Manjat, ulama lincah ini sukses kelabui Belanda lewat operasi intelijen dan perang pura-pura. Inilah kisah epik telik sandi yang satukan santri dan keraton.

KOSONGSATU.ID – Di balik gemuruh Perang Jawa (1825-1830), tersimpan sebuah kisah operasi intelijen dan aliansi rahasia yang mengelabui pemerintah kolonial Belanda. Aktor utamanya bukanlah seorang pangeran, melainkan seorang ulama muda tangguh bernama Kiai Imam Rozi.

Berperan ganda sebagai panglima perang dan telik sandi (mata-mata) bagi Pangeran Diponegoro, Kiai Imam Rozi sukses merajut benang perlawanan yang menghubungkan laskar santri pedalaman dengan Keraton Surakarta.

Misi Rahasia dan Perang Pura-Pura

Kisah epik ini bermula dari sebuah misi pelarian yang dramatis. Kiai Imam Rozi, yang saat itu ditahan oleh pasukan penjajah di Semarang, berhasil meloloskan diri dari kepungan ketat Belanda.

Memanfaatkan kelengahan penjaga dan kemampuan penyamarannya, ia menempuh jalur gerilya menyusuri hutan pedalaman melalui Grobogan dan Boyolali, menghindari jalan utama yang dijaga sistem Benteng Stelsel.

Misi utamanya sangat krusial: membawa surat rahasia dari Pangeran Diponegoro untuk diserahkan langsung kepada penguasa Surakarta. Surat ini menjadi kunci penghubung antara laskar santri dan pihak keraton.

Menariknya, untuk menyamarkan kesepakatan saling dukung ini dari endusan Belanda, laskar Diponegoro dan pasukan Surakarta justru melakoni siasat yang cerdik.

“Surakarta tidak secara terang-terangan membantu Diponegoro, tapi secara sembunyi-sembunyi. Kedua belah pihak bahkan terlibat perang pura-pura,” ungkap sejarawan NU Zainul Milal Bizawie, dalam bukunya Jejaring Ulama Diponegoro: Kolaborasi Santri Dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Pada Awal Abad ke-18, terbitan Pustaka Compass, 2019.

Arsip-arsip rahasia yang dilacak oleh sejarawan Inggris, Peter Carey, mengonfirmasi hal ini. Korespondensi yang dibawa oleh kurir Kiai Imam Rozi membuktikan bahwa penguasa Surakarta (terutama Pakubuwono VI) tidak tunduk pada Belanda, melainkan menjadi penyokong dana utama untuk peperangan di wilayah timur.

Lahirnya Julukan “Singo Manjat”

Sebelum bergabung dengan laskar Diponegoro pada usia 24 tahun, Kiai Imam Rozi telah mematangkan kedalaman spiritual dan intelektualnya. Ia berguru kepada Kiai Rifai di Drono, Klaten, dan Kiai Abdul Jalal Awwal Kalioso bersama Kiai Mojo (Penasihat Pangeran Diponegoro).

Di medan tempur, kemampuan mobilitas dan intelijen Kiai Imam Rozi sangat diwaspadai Belanda. Ia dijuluki Singo Manjat (Singa yang Memanjat/Melompat). Kisah tutur dari keturunannya menyebutkan bahwa sang kiai dibekali ilmu kanuragan tinggi. Berikut adalah taktik gerilya yang membuat laskar Singo Manjat begitu ditakuti:

  • Kecepatan Ekstrem: Mampu memanjat pohon-pohon tinggi di hutan pedalaman dengan kecepatan luar biasa untuk mengintai pergerakan pasukan Jenderal de Kock.
  • Kamuflase Jaringan Santri: Menggunakan para santri yang menyamar sebagai pedagang atau petani sebagai kurir rahasia yang leluasa melewati pos penjagaan militer Belanda.
  • Penyergapan Mendadak: Bergerak cepat di medan berbukit untuk melakukan serangan kejutan terhadap patroli militer kolonial.
  • Ilmu Sepi Angin: Diyakini memiliki kemampuan meringankan tubuh yang membantunya lolos dari kepungan dan tahanan tanpa tersentuh.

Daya rusak strategi ini diakui oleh penulis sejarah militer Belanda, AWP Wietzel, dalam bukunya De Generaal Majoor Carel Jhr. van der Wijck (1852). Wietzel mencatat adanya eskalasi perlawanan santri yang sangat masif di wilayah timur Yogyakarta antara tahun 1825 hingga 1827.

Untuk memetakan kekuatan ini, berikut adalah pembagian wilayah gerilya laskar Diponegoro di bawah komando Kiai Imam Rozi:

 

Tabel pembagian wilayah gerilya laskar Diponegoro di bawah komando Kiai Imam Rozi. – Ilustrasi AI Generate

Menyeimbangkan Fraksi dan Membangun Tempursari

Berdasarkan catatan Peter Carey dalam Sisi Lain Diponegoro, posisi Kiai Imam Rozi tidak hanya sebatas panglima tempur. Pada periode 1826-1828, ia resmi diangkat sebagai Penghulu Utama Pangeran Diponegoro.

Jabatan politis-agamis ini diberikan secara khusus untuk menyeimbangkan dominasi faksi Kiai Mojo di internal laskar, sekaligus merekonsiliasi kaum bangsawan keraton dan santri pedalaman dalam satu sentimen anti-kolonial.

Salah satu isi surat rahasia yang dibawa Kiai Imam Rozi kepada keraton adalah permohonan lahan dakwah di Surakarta bagian barat. Permohonan ini terwujud pada tahun 1833 saat ia mendirikan Pondok Pesantren Singomanjat di Desa Tempursari, Klaten.

Pada tahun 1837, Pakubuwono VI menetapkan kawasan Tempursari sebagai Tanah Perdikan (bebas pajak).

Gelar “Singo Manjat” dari keraton terus digunakan di Tempursari untuk menyembunyikan identitas aslinya dari pelacakan dan sisa-sisa operasi militer Belanda.

“Kalau dilihat dari toponimi, Tempursari bisa berarti daerah pusat pertempuran. Dan kalau dari bahasa Jawa lain lagi, bisa berarti tempat untuk mendapatkan inti sari,” terang Hari Wahyudi, Pemerhati Sejarah Kabupaten Klaten.

Akar Sanad dan Jejak Keturunan

Lahir di Cawas, Klaten pada tahun 1795 (sumber lain menyebut 1801), Kiai Imam Rozi bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah putra dari Kiai Maryani (Wiromenggolo / Wirononggo II).

Jika ditarik ke atas, garis keturunannya menyambung tegak lurus pada jaringan ulama penyebar Islam awal di Jawa Tengah: Kiai Wirononggo I -> Kiai Singo Hadiwijoyo -> Kiai Tosari -> Kiai Ya’kub -> Kiai Ageng Gribig di Jatinom, Klaten.

Sang kiai juga membangun jaringan kekerabatan yang kuat. Dari pernikahan keduanya dengan Nyai Marfu’ah (asal Mlangi, Yogyakarta), lahir penerus perjuangannya, yakni Nyai Joyongulomo dan Kiai Im Rozi Petak yang membangun basis di Susukan, Salatiga.

Hingga hari ini, jejak kepahlawanan Kiai Imam Rozi terus dirawat. Dari Desa Tempursari, lahir banyak ulama besar di Solo Raya, salah satunya KH. Abdul Mu’id Tempursari.

Para keturunan (dzurriyat) terus menjaga memori kolektif tentang sang panglima telik sandi dengan menggelar Haul Kiai Singo Manjat setiap tanggal 8 Safar, mengenang sosok ulama yang kelincahannya di atas pohon pernah membuat repot jenderal-jenderal Belanda.***