Di medan tempur, kemampuan mobilitas dan intelijen Kiai Imam Rozi sangat diwaspadai Belanda. Ia dijuluki Singo Manjat (Singa yang Memanjat/Melompat). Kisah tutur dari keturunannya menyebutkan bahwa sang kiai dibekali ilmu kanuragan tinggi. Berikut adalah taktik gerilya yang membuat laskar Singo Manjat begitu ditakuti:

  • Kecepatan Ekstrem: Mampu memanjat pohon-pohon tinggi di hutan pedalaman dengan kecepatan luar biasa untuk mengintai pergerakan pasukan Jenderal de Kock.
  • Kamuflase Jaringan Santri: Menggunakan para santri yang menyamar sebagai pedagang atau petani sebagai kurir rahasia yang leluasa melewati pos penjagaan militer Belanda.
  • Penyergapan Mendadak: Bergerak cepat di medan berbukit untuk melakukan serangan kejutan terhadap patroli militer kolonial.
  • Ilmu Sepi Angin: Diyakini memiliki kemampuan meringankan tubuh yang membantunya lolos dari kepungan dan tahanan tanpa tersentuh.

Daya rusak strategi ini diakui oleh penulis sejarah militer Belanda, AWP Wietzel, dalam bukunya De Generaal Majoor Carel Jhr. van der Wijck (1852). Wietzel mencatat adanya eskalasi perlawanan santri yang sangat masif di wilayah timur Yogyakarta antara tahun 1825 hingga 1827.

Untuk memetakan kekuatan ini, berikut adalah pembagian wilayah gerilya laskar Diponegoro di bawah komando Kiai Imam Rozi:

 

Tabel pembagian wilayah gerilya laskar Diponegoro di bawah komando Kiai Imam Rozi. – Ilustrasi AI Generate

Menyeimbangkan Fraksi dan Membangun Tempursari

Berdasarkan catatan Peter Carey dalam Sisi Lain Diponegoro, posisi Kiai Imam Rozi tidak hanya sebatas panglima tempur. Pada periode 1826-1828, ia resmi diangkat sebagai Penghulu Utama Pangeran Diponegoro.

Jabatan politis-agamis ini diberikan secara khusus untuk menyeimbangkan dominasi faksi Kiai Mojo di internal laskar, sekaligus merekonsiliasi kaum bangsawan keraton dan santri pedalaman dalam satu sentimen anti-kolonial.

Salah satu isi surat rahasia yang dibawa Kiai Imam Rozi kepada keraton adalah permohonan lahan dakwah di Surakarta bagian barat. Permohonan ini terwujud pada tahun 1833 saat ia mendirikan Pondok Pesantren Singomanjat di Desa Tempursari, Klaten.