Resi Hindu dan Mursyid Shiddiqiyyah bertemu di Jombang. Merajut semangat kebangsaan lintas-iman demi Indonesia. Menegaskan bahwa cinta tanah air melampaui perbedaan keyakinan.


KOSONGSATU.ID—Kamis pagi, 26 Juni 2025 itu mulai merangkak menuju siang di Padepokan Kaseban Jati Kasempurnaan, Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Jombang, ketika sebuah pertemuan langka tapi penuh makna berlangsung. Seorang resi Hindu dari Bali, berdarah Sunda, Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), bersilaturahmi dengan Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.

Resi itu adalah Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba. Kehadirannya Resi Ida Agung bukan sekadar kunjungan kehormatan. Dia datang dengan niat tulus: belajar kebangsaan dari seorang tokoh yang ia anggap telah melampaui sekadar simbol keagamaan.

“Indonesia sudah banyak memiliki tokoh. Tapi panutan, itulah yang sulit kita temukan,” ujarnya lirih penuh takzim. “Dan Pak Kiai ini, bagi saya, adalah panutan. Guru besar bangsa.”

Tak hanya sebagai pemuka Islam, Kyai Mukhtar, bagi Resi Ida, adalah sosok “kiai lingsir”—gelar dalam tradisi Hindu-Bali bagi mereka yang telah mencapai kedewasaan spiritual, yang telah melepaskan dunia dan hidup untuk bangsa dan umat.

Meski telah berusia 96 tahun, Kiai Mukhtar tetap teguh menyerukan pentingnya cinta tanah air, jati diri bangsa, dan semangat gotong royong, sebagai penyangga utama keutuhan negara.

“Kita sedang menghadapi krisis kebangsaan,” tutur Resi Ida. “Dan untuk itu, kita butuh bukan hanya semangat baru, tapi juga keteladanan. Saya percaya, dari tempat ini—dari Ploso, dari Shiddiqiyyah—cahaya itu bisa menyala kembali.”

Menyatukan Wawasan, Merajut Masa Depan

Pertemuan itu menjadi momen pengakuan bahwa spiritualitas lintas-iman bisa bertemu di satu titik yang sama: cinta tanah air.

Dalam dialognya, Kiai Mukhtar menegaskan, “Kalau tidak ada cinta tanah air yang sejati, robohlah negara ini. Tapi jika bangsa ini kembali ke jati dirinya, maka selesai sudah semua masalah.”

Resi Ida pun mengusulkan sejumlah inisiatif, yang ia harap bisa menjadi gerakan bersama. Antara lain, memperjelas asal-usul Bung Karno sebagai tokoh yang lahir di Ploso Jombang; menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara utuh tiga stanza; serta menegakkan nilai-nilai UUD 1945 sebagaimana mestinya.

Semua gagasan itu, diakui Resi Ida, lahir dari inspirasi yang ia serap dari ajaran Kiai Mukhtar. Bahkan, ia telah menyiapkan sebuah deklarasi kebangsaan lintas-iman, yang direncanakan akan digelar di Istana Tapak Siring, Bali.

“Kami di Bali ingin mengamalkan ajaran beliau. Ini bukan hanya tentang Islam atau Hindu, tapi tentang Indonesia,” tandasnya.

Resi Ida juga menyatakan sepakat atas pemaknaan historis bahwa 17 Agustus adalah hari kemerdekaan bangsa Indonesia, sementara 18 Agustus adalah hari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penegasan ini dianggap penting untuk meluruskan kembali narasi kebangsaan yang terkadang kabur oleh wacana politik dan kepentingan sektoral.