Mudik bukan hanya perpindahan tubuh dari kota ke kampung halaman. Ia adalah perjalanan emosional. Dan kenyamanan, sekecil apa pun, ikut menentukan bagaimana pengalaman itu dikenang.

Proses pengerjaan eksterior Kereta Ekonomi Kerakyatan di Balai Yasa Mangarai, Jakarta. – PT KAI

Tarif ‘di Antara Dua Dunia’

Dari sisi harga, KAI menempatkan Kereta Ekonomi Kerakyatan di ruang tengah. Tarifnya berada di atas ekonomi PSO, tetapi tetap di bawah ekonomi komersial. Sebuah titik temu yang ingin menjawab dilema klasik pemudik: memilih murah tapi padat, atau nyaman namun mahal.

Skema ini memberi alternatif. Masyarakat bisa menimbang ulang prioritasnya—apakah bersedia menambah sedikit biaya demi ruang duduk yang lebih lega dan posisi kursi yang searah perjalanan.

Kehadiran layanan ini, menurut KAI, juga lahir dari masukan pelanggan. Aspirasi itu kemudian diterjemahkan menjadi modifikasi konkret pada sarana yang ada. Di sini, relasi antara operator dan pengguna menjadi lebih dialogis: kritik dan harapan tak berhenti sebagai keluhan, melainkan diolah menjadi inovasi.

Rute Strategis Lebaran

Untuk tahap awal, Kereta Ekonomi Kerakyatan akan dirangkaikan dalam KA Tambahan relasi Stasiun Pasar Senen–Stasiun Lempuyangan. Rangkaian tersebut terdiri atas lima kereta eksekutif dan empat kereta ekonomi kerakyatan.

Total kapasitasnya mencapai 250 tempat duduk kelas eksekutif dan 372 tempat duduk kelas ekonomi kerakyatan. Kombinasi ini menciptakan komposisi yang menarik: satu rangkaian dengan spektrum layanan berbeda, menyasar segmen penumpang yang beragam dalam satu perjalanan.

Adapun jadwal operasionalnya telah ditetapkan.

  • KA 7039 Tambahan Lempuyangan–Pasarsenen berangkat pukul 06.00 WIB dan tiba pukul 13.56 WIB.
  • KA 7040 Tambahan Pasarsenen–Lempuyangan berangkat pukul 15.25 WIB dan tiba pukul 22.57 WIB.

Penjualan tiket dibuka mulai 25 Februari 2026 pukul 00.00 WIB. Periode keberangkatan berlangsung pada 11 Maret hingga 1 April 2026—rentang waktu krusial menjelang dan sesudah Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.