Kubu yang Terbelah dan Pengklasifikasian

Pada awal 1950-an, dunia sedang terbelah dua. Ada “Dunia Pertama”, yaitu negara-negara kapitalis sekutu Amerika Serikat dan NATO, seperti Eropa Barat, Kanada, dan Jepang. Di bagian lain, ada “Dunia Kedua”, yang terdiri dari blok komunis dipimpin Uni Soviet dan sekutunya di Eropa Timur, serta Tiongkok.

Lalu, ada kelompok negara yang tidak masuk kedua kubu itu, yaitu negara-negara non-blok, yang mayoritas baru merdeka dari kolonialisme. Inilah yang disebut sebagai Dunia Ketiga.

Awalnya, istilah ini murni politik, yang menandai posisi non-blok dalam Perang Dingin. Namun, karena sebagian besar negara non-blok masih miskin, istilah “Dunia Ketiga” lama-kelamaan bergeser makna menjadi “negara miskin dan tertinggal”.

Seiring berjalannya waktu, istilah ini dianggap peyoratif. Setelah Perang Dingin berakhir, masyarakat internasional lebih suka menyebutnya dengan istilah lain: “negara berkembang,” “Global South,” atau menggunakan klasifikasi pendapatan dari Bank Dunia.

Walau sudah jarang digunakan secara resmi, istilah “Dunia Ketiga” tetap membekas dalam ingatan kolektif. Ia bukan sekadar label geopolitik, tetapi cermin bagaimana negara-negara baru merdeka dulu memandang diri mereka: bukan bagian dari blok Barat atau Timur, tetapi sebuah kekuatan baru yang ingin diakui di panggung dunia.

Nixon Shock & Petrodollar

Pada 1971, Presiden Richard Nixon mencabut jaminan dolar terhadap emas. Dunia masuk era kurs mengambang—yang membikin nilai tukar makin liar.

Dua tahun setelahnya, krisis minyak 1973 meledak. Harga minyak naik gila-gilaan. Negara OPEC yang kaya raya menyimpan dolar hasil minyak ke bank internasional.

Bank-bank Barat pun menyalurkan petrodollar itu ke negara berkembang. Hasilnya, lahirlah jalan tol, bendungan, pabrik—yang semuanya dibangun dengan utang dolar.

Dengan sistem keuangan yang lahir dari Bretton Woods, negara-negara miskin dijerat dengan utang dolar. – Ilustrasi KOSONGSATU.ID

Volcker Shock dan “Dekade Hilang”

Pada awal 1980-an, Ketua The Fed, Paul Volcker, ‘banting setir’. Dia menaikkan suku bunga secara tajam, untuk menekan inflasi AS. Dampaknya pun brutal, di mana cicilan utang dolar negara-negara berkembang jadi meledak.

Meksiko jadi negara yang pertama angkat tangan pada tahun 1982. Negeri Sombrero gagal bayar. Krisis menular ke Brasil, Argentina, Filipina, hingga Afrika.

Pembangunan pun macet. Dunia menyebutnya “lost decade”, di mana satu dekade hilang hanya untuk membayar bunga dan cicilan.