Sektor pertanian Indonesia terancam gagal panen akibat kemarau ekstrem 2026 yang diprediksi lebih awal dan lebih kering dari normal. BMKG mengimbau pemerintah segera melakukan aksi mitigasi.


KOSONGSATU.ID—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa musim kemarau 2026 akan tiba lebih awal di sebagian besar wilayah Indonesia. Sebanyak 325 Zona Musim (ZOM) atau 46,5 persen wilayah diprediksi memasuki kemarau lebih cepat dari biasanya.

Fenomena ini dipicu oleh berakhirnya La Nina Lemah pada akhir Februari 2026 dan peralihan menuju fase ENSO Netral. Atmosfer global kini bersiap merangkak menuju fase El Nino yang berpotensi menekan curah hujan secara ekstrem.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers di Jakarta, 4 Maret 2026, menyampaikan peringatan keras. “Mulai semester kedua tahun ini, terdapat peluang sebesar 50-60 persen munculnya fenomena El Nino kategori Lemah-Moderat.

BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata oleh para pemangku kepentingan,” paparnya.

Wilayah Terdampak dan Puncak Kekeringan

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci wilayah yang harus segera melakukan persiapan pengairan. “Mengenai sifat hujan musim kemarau 2026 ini secara umum kami prediksi bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya,” ungkapnya pada 4 Maret 2026.

Pesisir utara Jawa, sebagian besar Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT akan menjadi wilayah pertama yang memasuki kemarau pada April 2026. Total ada 114 Zona Musim yang terdampak di bulan tersebut .

Kondisi akan mencapai puncaknya pada Agustus 2026. Sebanyak 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan parah . Selain ancaman gagal panen, intervensi El Nino juga berpotensi memicu krisis air bersih struktural.

Respons Pemerintah: Pompanisasi 2,2 Juta Hektare

Kementerian Pertanian bergerak cepat dengan menyiapkan mitigasi strategis. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan pompanisasi untuk 2,2 juta hektare lahan sawah tadah hujan.

“Di lapangan sudah siap pompanisasi 1,2 juta hektare, bisa menjangkau pompa kita ke 1,2 juta hektare sawah tadah hujan. Kemudian tahun ini kita siapkan lagi 1 juta hektare,” kata Amran dalam konferensi pers, Jumat (6/3/2026).

Selain pompanisasi, pemerintah juga merehabilitasi irigasi untuk kurang lebih 1 juta hektare lahan serta menyiapkan bibit unggul yang tahan terhadap kondisi kering . Optimalisasi lahan rawa untuk pertanian telah mencapai 1 juta hektare yang diklaim memiliki produktivitas tinggi saat musim kering.

Stok Pangan Nasional Dipastikan Aman

Meski menghadapi ancaman kekeringan, Menteri Amran optimistis produksi pangan tetap terjaga. Berdasarkan pengalaman menghadapi El Nino dahsyat pada 2015-2016 dan 2023, pemerintah yakin dapat mengatasi kondisi tahun ini.

“Jadi ke depan insyaallah produksi kita aman. Jadi menghadapi geopolitik ini yang memanas dan menghadapi El Nino kita sudah ada pengalaman,” sebut Amran.

Pemerintah mencatat cadangan pangan Indonesia saat ini mampu bertahan hingga sekitar 324 hari. Stok beras di Perum Bulog mencapai 3,7 juta ton dengan potensi produksi dari standing crop sekitar 10-11 juta ton.

“Produksi kita terus berjalan setiap bulan antara 2,6 juta sampai 5,7 juta ton. Itu range panen setiap bulannya, sedangkan kebutuhan kita adalah 2,5 juta ton per bulan. Jadi, pangan aman,” tegas Amran.

Peringatan Akademisi

Di sisi lain, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai El Nino. Ia memproyeksi terjadinya penurunan produksi beras nasional tahun ini sebesar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Ini catatan penting. Untuk itu, prediksi saya produksi beras 2026 berpotensi turun hingga persen,” kata Andreas dalam acara di Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Ia menegaskan bahwa berdasarkan sejarah produksi padi 30 tahun terakhir, saat La Nina produksi pasti naik, namun saat El Nino produksi pasti turun. Berbagai lembaga internasional memprediksi Indonesia akan memasuki fase El Nino mulai Juli 2026 hingga Juli 2027. ***