Alarm untuk Negara
Gus Izzul mengingatkan bahwa tanpa adanya pembenahan serius dalam merekonstruksi kebijakan berbasis hak anak, kasus serupa berpotensi terus terjadi “dalam senyap” di pelosok Indonesia. Negara dituntut hadir bukan hanya saat membagikan bantuan, tetapi dalam menjamin ruang hidup yang bermartabat bagi setiap anak.
Sebelumnya, bocah SD di Ngada tersebut nekat mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku tulis dan pulpen. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya yang menggambarkan beban ekonomi yang dialami keluarganya.***
Halaman


Tinggalkan Balasan