Syiar Tempursari dan Jaringan Keturunan

Di Tempursari, Imam Rozi membangun masjid dan merintis Pondok Pesantren Singo Manjat sekembalinya dari medan laga. Ia kemudian menikahi empat perempuan, salah satunya Raden Ayu Sumirah yang merupakan saudara sepersusuan Pangeran Diponegoro.

Pernikahan strategis yang disembunyikan dari pantauan Belanda ini melahirkan jejaring ulama besar. Keturunannya menyebar dan mendirikan berbagai pusat keilmuan Islam lintas daerah, baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Dari garis keturunannya, lahir tokoh-tokoh besar seperti KH Abdul Mu’id yang memimpin tarekat Syadziliyyah dan KH Idris sebagai pengasuh Pesantren Jamsaren Solo. Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah yang dibawanya terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Jejak dakwah tersebut juga mengakar di Kabupaten Semarang melalui putranya, KH Muhammad Rozi, sosok sentral pendiri Pondok Pesantren Al-Huda di Dusun Petak, Desa Sidoharjo, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang.

Perjuangan Imam Rozi tidak hanya berhenti pada angkat senjata, tetapi berlanjut melalui pendidikan pesantren yang ia wariskan hingga wafat pada 1872. Sikap patriotik dan keilmuannya menyatu dalam napas perjuangan masyarakat Nusantara.

“Sosoknya akan selalu dikenang sebagai pejuang yang memiliki kecintaan terhadap tanah air, sekaligus figur yang tekun mendalami dan menyebarkan ilmu agama,” kata Hari memungkasi.***


Daftar Pustaka:

  • Carey, Peter. (2017). Sisi Lain Diponegoro. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Wietzel, A.W.P. (Catatan Sejarah Perang Jawa 1825-1830).
  • Babad Diponegoro dan Babad Kedung Kebo.
  • Wawancara Pegiat Sejarah Klaten, Hari Wahyudi.
  • Arsip Silsilah Keluarga dan Sejarah Pondok Pesantren Singo Manjat Tempursari, Klaten.