Pakar kesehatan menyarankan jeda tiga jam setelah sahur sebelum kembali tidur.


KOSONGSATU.ID—Kebiasaan langsung tidur setelah sahur saat Ramadan berisiko mengganggu kesehatan. Pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dede Nasrullah, mengingatkan tubuh membutuhkan waktu mencerna makanan sebelum beristirahat.

Menurut Dede, jeda makan dan tidur yang terlalu singkat dapat mengacaukan ritme alami tubuh. Proses pencernaan, katanya, bukan sekadar rutinitas biologis, melainkan kerja kompleks yang melibatkan lambung, usus, enzim, dan sistem saraf.

“Tubuh membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk mencerna makanan dengan optimal,” ujar Dede seperti dikutip pada Jumat (20/2/2026).

Saat seseorang langsung berbaring setelah sahur, tubuh memasuki mode istirahat. Hampir seluruh fungsi organ melambat, kecuali otak, jantung, dan paru-paru. Akibatnya, makanan yang baru dikonsumsi tidak tercerna maksimal.

Kondisi ini memicu refluks asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Dalam posisi horizontal, klep lambung cenderung lebih rileks sehingga asam lambung mudah naik ke kerongkongan.

Gejalanya kerap muncul dalam bentuk sensasi panas di dada, tenggorokan terbakar, mual, sering bersendawa, hingga rasa pahit di mulut. Keluhan ini sering dianggap ringan, padahal bisa menandakan gangguan pencernaan berulang.

Risiko Metabolik dan Kardiovaskular

Dede juga menyoroti dampak lain yang jarang disadari. Tidur setelah sahur berpotensi menyebabkan penumpukan lemak karena kalori tidak terpakai sebagai energi. Terlebih jika menu sahur didominasi karbohidrat dan lemak.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memperburuk profil metabolik tubuh.

Ia menjelaskan, makan berat lalu segera tidur juga bisa memicu lonjakan tekanan darah. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

“Tekanan darah yang tidak stabil dalam jangka panjang dapat membuka risiko penyakit jantung koroner, serangan jantung, hingga stroke,” jelasnya.

Menurut Dede, ketika sistem pencernaan bekerja keras, aliran darah lebih banyak terfokus pada organ tersebut. Dalam kondisi tertentu dan berlangsung lama, otak bisa mengalami kekurangan suplai oksigen.

Selain itu, posisi berbaring setelah makan dapat menghambat pengosongan lambung. Normalnya, proses ini memakan waktu dua hingga tiga jam. Jika terhambat, risiko konstipasi atau sembelit meningkat.

Sembelit bukan sekadar persoalan ketidaknyamanan. Jika terjadi berulang, gangguan ini dapat memicu masalah kesehatan lanjutan selama Ramadan.

Atur Waktu Sahur dengan Bijak

Dede menyarankan umat Muslim memberi jeda setidaknya tiga jam sebelum kembali tidur. Dengan begitu, makanan dapat diolah tubuh secara sempurna tanpa gangguan posisi istirahat.

“Dengan menunggu sekitar tiga jam, makanan dapat diolah secara sempurna oleh tubuh,” tegasnya.

Ia menekankan, anjuran ini bukan berarti mengorbankan waktu istirahat sepenuhnya. Pengaturan waktu sahur dan pemilihan menu seimbang menjadi kunci agar tubuh tetap bugar selama berpuasa.

Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Momentum ini juga menjadi kesempatan memperbaiki pola hidup.

Memberi jeda sebelum tidur mungkin terdengar sederhana. Namun langkah kecil itu membantu menjaga keseimbangan sistem pencernaan, tekanan darah, dan kesehatan jangka panjang.***