Selat Hormuz nyaris lumpuh setelah Iran mengarahkan kapal ke jalur dekat wilayahnya, lalu menuai protes keras dari CEO ADNOC Sultan Al Jaber.


KOSONGSATU.ID – Lalu lintas kapal di Hormuz turun drastis menjadi hanya tujuh kapal dalam 24 jam terakhir, jauh dari kisaran normal sekitar 140 kapal per hari. Perlambatan ini terjadi setelah Iran mewajibkan kapal melintas dekat perairannya untuk menghindari ancaman ranjau laut. 

Reuters melaporkan Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC mengarahkan kapal melalui jalur tertentu di dekat Pulau Larak dan memberi peringatan kepada kapal yang tidak memperoleh otorisasi. Perubahan itu membuat jalur pelayaran energi paling vital di dunia berada di bawah kendali praktis Teheran. 

Protes Abu Dhabi

Kebijakan itu memicu protes dari Sultan Al Jaber. Mengutip laporan Reuters, ia berkata, “Iran telah memperjelas melalui pernyataan dan tindakannya bahwa pelayaran tunduk pada izin, syarat, dan pengaruh politik. Itu bukan kebebasan navigasi. Itu adalah paksaan,” pada Kamis (9/4/2026). 

Sultan Al Jaber adalah CEO ADNOC dan Menteri Perindustrian dan Teknologi Maju UEA. 

Dalam pernyataan yang sama, Al Jaber juga menegaskan bahwa, “Selat Hormuz harus dibuka kembali segera, sepenuhnya, dan tanpa syarat maupun ikatan politik apa pun.” Sekitar 230 kapal bermuatan juga dilaporkan masih tertahan akibat pembatasan itu. 

Hukum Laut Jadi Sorotan

Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional menegaskan hak lintas transit di selat internasional tidak boleh dihambat atau dipungut biaya. Prinsip dalam UNCLOS itu memperkuat posisi bahwa Hormuz bukan jalur yang bisa dikendalikan sepihak dengan syarat politik oleh negara pantai. 

Tekanan terhadap Iran juga datang dari Inggris. Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper akan menyerukan agar Selat Hormuz tetap bebas tarif. Polemik ini kini tak lagi semata soal keamanan laut, tetapi juga soal kendali atas nadi pasokan energi dan stabilitas ekonomi global.***