Iran menuding Amerika Serikat justru merusak gencatan senjata setelah serangkaian serangan dan insiden terhadap kapal dagang kembali terjadi di Selat Hormuz.
KOSONGSATU.ID – Ebrahim Azizi, Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, menolak tuduhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Teheran melanggar gencatan senjata lewat serangan pesawat nirawak terhadap kapal dagang di Selat Hormuz.
Azizi menyatakan Washington tidak menunjukkan komitmen terhadap perundingan maupun penghentian permusuhan. Pernyataan itu disampaikan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas Iran pada Jumat, 26 Juni 2026.
“Pelanggaran gencatan senjata yang ceroboh ini, seperti biasa, akan berujung pada kemunduran dan penyesalan mereka,” kata Azizi melalui akun X, Sabtu, 27 Juni 2026.

Washington sebelumnya menyebut serangan terhadap kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, sebagai pelanggaran kesepakatan sementara yang baru disepakati Teheran dan Washington.
Trump mengatakan sebuah pesawat nirawak menghantam bagian atas kapal tersebut. Amerika Serikat menyatakan militernya kemudian menyerang lokasi penyimpanan rudal, pesawat nirawak, serta radar pesisir Iran.
Iran tidak secara langsung mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal itu. Namun, otoritas Iran menegaskan kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz wajib mengikuti instruksi pelayaran yang mereka tetapkan.
Iran Klaim Kendalikan Lalu Lintas Selat
Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz menjadi bagian dari ketentuan kesepakatan sementara. Teheran juga menuduh Washington memprovokasi konflik dan mengabaikan komitmen gencatan senjata.
Televisi pemerintah Iran melaporkan pasukan Garda Revolusi menembakkan tembakan peringatan ke arah kapal yang disebut melintasi jalur tanpa persetujuan Iran. Iran menyatakan langkah itu berkaitan dengan penegakan instruksi maritim mereka.
Azizi menegaskan setiap pelanggaran terhadap ketentuan pelayaran Iran akan direspons secara tegas. Pernyataan itu memperlihatkan upaya Teheran mempertahankan kendali atas salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan Washington telah mematuhi kesepakatan gencatan senjata. Ia mengatakan setiap perbedaan penafsiran atas nota kesepahaman semestinya diselesaikan melalui komunikasi, bukan kekerasan.
Kapal Tanker Kembali Terkena Proyektil
Ketegangan meningkat pada Sabtu, 27 Juni 2026, ketika UKMTO melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil di Selat Hormuz. Kapal itu dilaporkan mengalami kerusakan pada anjungan, tetapi seluruh awak selamat.
Insiden tersebut terjadi setelah serangan terhadap Ever Lovely pada Kamis, 25 Juni 2026. Kedua peristiwa itu membuat keamanan pelayaran di selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab kembali menjadi perhatian.
Iran dan Amerika Serikat sama-sama menyalahkan pihak lawan atas meningkatnya kekerasan. Hingga berita ini ditulis, belum ada verifikasi independen mengenai pelaku serangan terhadap kapal tanker terbaru.
“Setiap pelanggaran terhadap instruksi pelayaran Iran akan dihadapi secara tegas,” kata Azizi.***





Tinggalkan Balasan