Fokus utama perburuan investor saat ini tertuju pada saham-saham milik konglomerasi besar yang memiliki fundamental bisnis lintas sektor. Saham-saham ini dianggap sebagai pelabuhan aman karena likuiditasnya yang tinggi dan cakupan bisnisnya yang luas, mulai dari energi, infrastruktur, hingga telekomunikasi.

“Saham-saham konglomerat memang masuk dalam daftar saham yang paling banyak diakumulasi oleh investor saat ini,” tulis laporan riset Ajaib pada 11 Februari 2026. Meskipun secara agregat investor asing mencatatkan net sell, beberapa saham konglomerat tertentu justru tetap mencatatkan beli bersih (net buy) karena dianggap memiliki prospek pertumbuhan yang stabil di tengah volatilitas global.

Dalam daftar pantauan, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang terafiliasi dengan grup Bakrie-Salim dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) milik grup Salim menjadi primadona. Tak ketinggalan, saham-saham di bawah kendali Prajogo Pangestu seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turut mendongkrak performa indeks. Di sektor telekomunikasi, saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) yang berkaitan dengan jaringan bisnis Sinar Mas-Axiata juga menunjukkan performa gemilang.

Stabilitas di Tengah Fluktuasi Harian

Karakteristik saham konglomerat yang stabil menjadikannya sebagai penyangga pasar saat sentimen global bergerak tidak menentu. Ukuran bisnis mereka yang raksasa memberikan rasa aman bagi investor domestik untuk terus menyuntikkan modal. Hal ini sangat krusial mengingat IHSG masih sangat sensitif terhadap isu jangka pendek.

Sebagai catatan, fluktuasi harian tetap terjadi dengan intensitas yang perlu diwaspadai. Pada perdagangan 13 Februari 2026, IHSG sempat terkoreksi tipis sebesar 0,64 persen akibat aksi ambil untung sebagian pelaku pasar. Penurunan jangka pendek ini dianggap wajar mengingat indeks telah reli cukup tajam pada sesi-sesi sebelumnya.

Pihak otoritas bursa dan para analis menyarankan agar investor tetap mencermati dinamika ini secara objektif. Meski investor domestik telah menjadi pahlawan bagi indeks, kehati-hatian investor global yang tecermin dalam angka net sell Rp5,47 triliun menunjukkan adanya risiko eksternal yang belum sepenuhnya mereda.