Peneliti memperingatkan mikroplastik dari pakaian kini mencemari sungai hingga turun bersama hujan.

KOSONGSATU.ID—Peringatan terbaru soal polusi mikroplastik kembali mencuat setelah sejumlah peneliti menyoroti bahaya serat sintetis dari pakaian sehari-hari. Mikroplastik yang lepas saat proses pencucian disebut sudah memasuki sungai dan laut, bahkan diduga turun bersama hujan di beberapa kota besar.

Rafika Aprilianti, peneliti Ecological Observation and Wetland Conservations (ECOTON), mengatakan pelepasan serat mikroplastik dari poliester, nilon, hingga spandeks terjadi setiap kali pakaian dicuci.

“Mikroplastik bukan hanya berbahaya karena bahan kimianya seperti ftalat dan BPA, tetapi juga bertindak seperti magnet yang menyerap pestisida dan logam berat di sungai,” ujarnya di Jakarta, Senin (10/11/2025).

Ia menjelaskan organisme air yang menelan partikel itu berisiko mengalami kerusakan organ, gangguan reproduksi, dan penurunan populasi ikan endemik.
Ketika polusi pewarna pakaian dan mikroplastik mendominasi, kata Rafika, sungai kehilangan fungsi alaminya sebagai sumber air bersih dan penopang kehidupan.

Ledakan Fast Fashion dan Limbah Pakaian

Rafika mengajak masyarakat meninggalkan budaya fast fashion yang mendorong produksi pakaian murah dalam jumlah besar. Ia menyarankan penggunaan serat alami dan memperpanjang usia pakai.

“Kalau bosan dengan pakaian itu-itu saja bisa mix and match. Pakaian yang masih layak pakai sebaiknya disumbangkan atau ditukar,” katanya.

Dominasi Poliester dan Hujan Mikroplastik di Kota Besar

Dalam pembahasan yang sama, Chitra Subyakto, pendiri sekaligus Direktur Kreatif Sejauh Mata Memandang, menyebut sampah pakaian sebagai penyumbang polusi global yang signifikan.

“Sampah pakaian itu salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia dan banyak bahannya mengandung mikroplastik,” ujarnya, dikutip Selasa (18/11/2025).

Chitra menanggapi temuan hujan mikroplastik di Jakarta dan menyoroti dominasi poliester pada produksi pakaian modern, terutama busana olahraga dan pakaian rumah. Menurutnya, tumpukan limbah pakaian di TPA, sungai, dan laut meningkatkan pelepasan mikroplastik yang akhirnya mencemari air laut dan biota.

“Situasi ini sangat mengkhawatirkan mengingat ahli sudah menyatakan kaitannya dengan penurunan imunitas hingga kanker,” kata Chitra.

Ia mengingatkan publik agar lebih teliti membaca informasi bahan pakaian, merawat pakaian dengan baik, serta mengolah kembali barang lama menjadi produk baru seperti tas atau sarung bantal.

Donasi Pakaian sebagai Aksi Lingkungan

Sementara itu, kampanye donasi pakaian kembali menguat sebagai salah satu upaya mengurangi limbah tekstil. Sejumlah lembaga sosial, termasuk Yasmin melalui lini usaha Toko Barbeku (Barang Bekas Berkualitas), menerima pakaian layak pakai untuk dijual kembali.

Hasil penjualan dipakai membiayai program pendidikan gratis, pusat terapi anak difabel, dan panti ODGJ.

Kampanye ini menekankan bahwa mendonasikan pakaian dapat menjadi bagian dari gaya hidup ramah lingkungan.
Toko Barbeku menerima donasi di Jl. Purnawarman Blok A No.37 Bukit dan Jl. Raya Cirendeu–Jl. Pd. Cabe Raya, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, dengan kontak WhatsApp 0821-2494-7320.***