Pasar energi langsung bereaksi setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak dunia anjlok sekitar sembilan persen, memberi ruang napas bagi negara pengimpor seperti Indonesia.
KOSONGSATU.ID – Pasar energi global merespons positif pembukaan kembali Hormuz, setelah Iran menyatakan jalur itu terbuka bagi kapal komersial selama masa gencatan senjata di Lebanon. Mengutip laporan Reuters, harga minyak dunia pada Jumat, 17 April 2026, langsung turun tajam.
Minyak mentah Brent ditutup turun USD9,01 atau 9,07 persen ke USD90,38 per barel. Sementara WTI merosot USD10,48 atau 11,45 persen ke USD83,85 per barel. Koreksi ini mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan, “Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka,” Jumat, 17 April 2026. Namun, perusahaan pelayaran masih meminta kejelasan tambahan sebelum kembali melintas penuh.
Indonesia Sambut Pelonggaran Tekanan
Pemerintah Indonesia menyambut positif perkembangan itu. Dalam siaran pers ESDM, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan pembukaan kembali jalur strategis itu menjadi kabar baik bagi stabilitas energi global dan nasional.
“Pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan perkembangan yang sangat positif bagi stabilitas pasokan energi global, termasuk Indonesia. Ini memberikan kepastian terhadap jalur distribusi energi yang sebelumnya sempat terganggu akibat dinamika geopolitik,” kata Anggia, Jumat, 17 April 2026.
ESDM juga menegaskan pemerintah terus memantau situasi global dan menjaga stabilitas pasokan serta harga energi domestik. Pada hari yang sama, Kementerian ESDM menyatakan ICP Maret 2026 ditetapkan sebesar USD102,26 per barel, naik dari USD68,79 per barel pada Februari 2026.
Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan, “Rata-rata ICP bulan Maret 2026 mengalami kenaikan signifikan sebesar USD33,47 per barel dibandingkan bulan Februari 2026.” Ia menambahkan, gangguan distribusi energi global, termasuk di Hormuz, ikut mendorong lonjakan harga itu.
Risiko Belum Hilang
Meski harga turun tajam, risiko belum sepenuhnya hilang. Reuters melaporkan lalu lintas di Selat Hormuz bisa kembali terganggu jika perundingan soal nuklir Iran dan pencabutan sanksi Amerika Serikat gagal mencapai titik temu.




Tinggalkan Balasan