Harga minyak menembus USD100 per barel setelah perundingan AS-Iran di Islamabad gagal. Washington lalu mengumumkan blokade kapal terkait pelabuhan Iran dan pasar langsung bereaksi keras.


KOSONGSATU.ID — Harga minyak dunia melonjak tajam setelah pembicaraan tingkat tinggi Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa hasil positif. Kegagalan negosiasi itu langsung diikuti pengumuman Washington soal blokade kapal yang masuk ke dan keluar dari pelabuhan Iran, memicu kekhawatiran baru atas pasokan energi global.

Reuters melaporkan minyak mentah Brent melesat lebih dari delapan persen ke USD102,80 per barel, sedangkan minyak mentah AS West Texas Intermediate naik ke USD104,88 per barel. Associated Press juga mencatat lonjakan serupa, dengan minyak mentah AS di USD104,24 dan Brent di USD102,29 per barel. 

Lonjakan itu terjadi karena pasar membaca langkah Amerika sebagai ancaman baru bagi jalur energi paling vital di dunia. Selat Hormuz merupakan titik lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak global. Setiap gangguan di kawasan itu segera diterjemahkan pasar sebagai risiko pasokan dan kenaikan biaya energi. 

Pasar Bereaksi Cepat

Komando Pusat AS menegaskan blokade mulai berlaku Senin, 13 April 2026, pukul 10.00 waktu timur AS. Namun, pembatasan itu hanya berlaku untuk lalu lintas maritim yang terkait dengan pelabuhan Iran. Kapal dari negara lain yang hanya melintasi Selat Hormuz menuju tujuan non-Iran disebut tidak akan dihalangi. 

Tetap saja, sinyal eskalasi itu cukup untuk mengguncang pasar. Reuters menyebut blokade tersebut berpotensi menghambat hingga 2 juta barel per hari ekspor minyak Iran. Kekhawatiran inilah yang mendorong pelaku pasar kembali memburu minyak, setelah sebelumnya harga sempat mereda saat gencatan senjata diumumkan. 

Diplomasi Buntu, Risiko Membesar

Perundingan Islamabad sendiri berakhir tanpa hasil setelah berlangsung sekitar 21 jam. Wakil Presiden AS JD Vance menyalahkan Iran karena menolak komitmen yang diminta Washington terkait program nuklir, sementara Teheran menuduh Amerika mengajukan tuntutan berlebihan dan gagal membangun kepercayaan.