Mallaby Ditumbalkan
Untuk menutupi jejak, NEFIS memprovokasi pasukan Gurkha agar bentrok dengan laskar Republik. Di tengah kekacauan, eksekusi dilakukan oleh salah satu perwira Inggris sendiri.
Mallaby tewas pada malam 30 Oktober 1945 pukul 20.08 di Jembatan Merah, Surabaya — tubuhnya hancur dan mobilnya terbakar hebat. Ironisnya, di lokasi kejadian justru ditemukan beberapa perwira Inggris, bukan tentara Republik.
Namun fitnah sudah disebar: Republik dituduh membunuh Mallaby. Tuduhan inilah yang dijadikan dalih untuk menyerang Surabaya secara besar-besaran pada 10 November 1945.
Fitnah, Kepanikan, dan Perpecahan
Kematian Mallaby mengguncang kubu sekutu.
Sepanjang Perang Dunia II, belum pernah seorang jenderal sekutu tewas di medan pertempuran — hingga malam itu di Surabaya. Kepanikan melanda. Inggris dan Belanda menuduh Republik Indonesia berada di balik pembunuhan itu.
Padahal, menurut banyak saksi dan catatan parlemen Inggris sendiri, tak ada bukti keterlibatan pejuang Republik.
Anggota parlemen Inggris Tom Driberg bahkan berkata pada 20 Februari 1946: “Saya tidak dapat mempercayai bahwa pihak Indonesia bertanggung jawab atas kematian Jenderal Mallaby. Ini pembunuhan licik; saksi mata mengatakan hanya ada perwira Inggris di lokasi kejadian.”
Namun propaganda sudah berjalan. Fitnah itu menimbulkan selisih paham di tubuh pemerintahan Republik dan mengganggu konsolidasi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Bung Tomo, Resolusi Jihad, dan Hari Pahlawan
Dalam pidato legendarisnya pada 10 November 1945, Bung Tomo berseru lantang: “Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu (sekutu) saudara-saudara, dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk memberhentikan pertempuran, tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.”
Pidato itu membakar semangat rakyat.

Di tengah tekanan, Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari memberi arah perjuangan: mempertahankan kemerdekaan adalah fardhu ‘ain.
Fatwa itulah yang menyatukan barisan santri, pejuang, dan rakyat Surabaya menghadapi serangan besar sekutu. Dari situ lahirlah semangat yang kelak kita kenang sebagai Hari Pahlawan.
Indonesia, Pemenang Sejati
Inggris dan sekutunya boleh menepuk dada sebagai pemenang Perang Dunia II, tapi di Bumi Indonesia Raya, keangkuhan mereka dikubur oleh keberanian rakyat.
Negeri yang baru berusia dua bulan itu mampu menewaskan dua jenderal Inggris dalam hitungan hari. Sebuah catatan yang tak pernah terjadi sepanjang Perang Dunia II di mana pun di dunia.
Karena itu, bagi rakyat Surabaya, kemenangan sejati bukan diukur dari siapa yang memiliki tank, tetapi dari siapa yang tidak gentar menghadapi maut.
Dan di tanah itu, Indonesia membuktikan dirinya: satu-satunya bangsa yang benar-benar mengalahkan sekutu di medan perang.

Fakta, Fitnah, dan Cahaya Sejarah
Peristiwa Surabaya bukan sekadar pertempuran bersenjata.
Ia adalah pertarungan antara kebenaran dan fitnah, antara keikhlasan rakyat mempertahankan kemerdekaan dan kelicikan politik global pasca-perang.
Kematian Mallaby — entah di tangan siapa sebenarnya — menjadi pintu bagi lahirnya kesadaran baru: bahwa kemerdekaan hanya dapat dipertahankan dengan iman, keberanian, dan persatuan.
Dan dari nyala api 10 November 1945 itulah lahir sebuah bangsa yang menolak tunduk: Indonesia Raya.
“Ketika sejarah ditulis dengan darah, maka kebenaran harus dihidupkan dengan ingatan.”***




3 Komentar