Dua sektor utama yang akan terdampak secara langsung adalah:

Minyak Sawit (CPO): Bangladesh adalah pasar tradisional raksasa bagi produk sawit Indonesia. Jika pemerintahan BNP mampu menstabilkan inflasi domestik, permintaan bahan baku minyak nabati untuk industri dan rumah tangga diprediksi akan tetap kuat.

Negosiasi IB-PTA: Kesepakatan perdagangan preferensial (Indonesia-Bangladesh Preferential Trade Agreement) yang telah digodok bertahun-tahun kini menunggu “ketuk palu” dari kabinet baru di Dhaka. Finalisasi kesepakatan ini bisa menjadi katalisator bagi ekspor non-migas RI.

Persaingan Tekstil: Indonesia vs Bangladesh

Di sisi lain, Indonesia harus tetap waspada di sektor tekstil. Reuters melaporkan bahwa sebelum pemilu usai, Bangladesh telah mengunci paket kebijakan dagang strategis dengan Amerika Serikat terkait akses pasar garmen.

Stabilitas politik pasca-kemenangan BNP berpotensi memicu realokasi investasi manufaktur padat karya kembali ke Dhaka. Dengan upah yang kompetitif dan insentif baru, Bangladesh bisa kembali menjadi pesaing berat bagi industri tekstil di Jawa Barat dan Jawa Tengah dalam perebutan rantai pasok global.***