Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon bahwa Gunung Padang bisa jadi “piramida tertua di dunia” mengguncang dunia arkeologi. Situs megalitikum ini kini menjadi medan perdebatan antara fakta ilmiah dan nasionalisme budaya.
KOSONGSATU.ID—Kabut pagi menyelimuti perbukitan Cianjur ketika matahari menyorot puncak batu-batu andesit yang tersusun rapi di lereng Gunung Padang. Dari kejauhan, situs itu tampak seperti panggung raksasa peninggalan masa lampau—hening, misterius, dan seolah menyimpan rahasia yang belum selesai diungkap.
Ketenangan itu mendadak pecah sejak Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan, “Gunung Padang adalah salah satu peradaban tertua di dunia.” Kalimat itu meluncur dalam forum publik pada Februari 2025 dan langsung mengguncang jagat arkeologi nasional.
“Sudah jelas ini man-made,” tegasnya, memunculkan kesan ‘menantang’ pemahaman konvensional tentang sejarah manusia di Nusantara.

Piramida Indonesia yang Mengusik Dunia
Sejak pernyataan itu, Gunung Padang menjelma medan perebutan tafsir antara ilmu pengetahuan dan imajinasi kebangsaan. Bagi sebagian pihak, ini adalah momen kebangkitan identitas budaya Indonesia. Bagi yang lain, justru peringatan agar sains tak diseret dalam euforia nasionalisme.
Ketua Tim Peneliti, Ali Akbar, menyebut telah ditemukan bahan karbon di setiap teras situs yang kini diuji di laboratorium. “Temuan baru ini bisa membantu menentukan usia asli situs,” ujarnya, sebagaimana dikutip Antara pada 20 Oktober 2025.
Pemerintah pun memperkuat lereng-lereng rapuh dan menata ulang kawasan agar siap menjadi pusat penelitian dunia.
Bagi Fadli Zon, Gunung Padang adalah simbol kebesaran Nusantara. “Punden berundak adalah piramida Indonesia,” katanya penuh keyakinan. “Kajian ini akan memperkuat jati diri dan kebanggaan bangsa.”
Antara Fakta, Klaim, dan Kontroversi
Namun tidak semua ilmuwan sependapat. Klaim bahwa lapisan terdalam situs berusia 27 ribu tahun menuai kritik tajam. Makalah ilmiah yang menguatkan teori itu bahkan ditarik dari jurnal Archaeological Prospection karena dianggap cacat metodologi—penanggalan dilakukan pada sampel tanah, bukan artefak manusia.

“Gunung Padang itu bukan piramida, tapi punden berundak,” bantah Lutfi Yondri dari Balai Arkeologi Bandung, beberapa waktu lalu. “Hasil radiokarbon menunjukkan usianya antara 117 SM hingga 45 SM.”
Perdebatan ini memunculkan pertanyaan lebih besar: sampai di mana sains boleh diinterpretasikan untuk kepentingan narasi kebangsaan?
Euforia di Lereng Cianjur
Sementara itu, masyarakat di sekitar situs merasakan dampak langsung. Jumlah wisatawan meningkat pesat, warung kopi dan penginapan sederhana bermunculan di sepanjang jalur menuju puncak. Di sisi lain, Gunung Padang menjelma ruang pertemuan antara pengetahuan, ekonomi, dan mitologi.
“Gunung Padang menyimpan misteri yang harus dipecahkan ilmuwan,” ujar Fadli Zon pada 8 Oktober 2025. “Kita tidak punya cetak biru bagaimana situs ini dibangun, tapi dengan ilmu pengetahuan rahasianya akan terungkap.”




Tinggalkan Balasan