Jejak arkeologis di Gunung Padang. – Istimewa

“Gunung Padang itu bukan piramida, tapi punden berundak,” bantah Lutfi Yondri dari Balai Arkeologi Bandung, beberapa waktu lalu. “Hasil radiokarbon menunjukkan usianya antara 117 SM hingga 45 SM.”

Perdebatan ini memunculkan pertanyaan lebih besar: sampai di mana sains boleh diinterpretasikan untuk kepentingan narasi kebangsaan?

Euforia di Lereng Cianjur

Sementara itu, masyarakat di sekitar situs merasakan dampak langsung. Jumlah wisatawan meningkat pesat, warung kopi dan penginapan sederhana bermunculan di sepanjang jalur menuju puncak. Di sisi lain, Gunung Padang menjelma ruang pertemuan antara pengetahuan, ekonomi, dan mitologi.

“Gunung Padang menyimpan misteri yang harus dipecahkan ilmuwan,” ujar Fadli Zon pada 8 Oktober 2025. “Kita tidak punya cetak biru bagaimana situs ini dibangun, tapi dengan ilmu pengetahuan rahasianya akan terungkap.”

Antara Kebanggaan dan Skeptisisme

Kini, publik menunggu hasil uji karbon dan laporan resmi tim riset. Jika benar usia situs mencapai puluhan ribu tahun, Indonesia akan menjadi rumah bagi piramida tertua di dunia—jauh sebelum Mesir berdiri. Tapi jika klaim itu tak terbukti, Gunung Padang tetaplah saksi bisu kehebatan peradaban megalitik Nusantara yang layak dirayakan tanpa hiperbola.

Apa pun kesimpulannya nanti, Gunung Padang telah membangunkan rasa ingin tahu bangsa: tentang siapa kita sebenarnya, dari mana peradaban ini bermula, dan seberapa jauh sains mampu menjembatani antara mitos dan fakta sejarah.***