Angka itu bukan prestasi. Angka itu adalah jurang.

Dari nilai pasar obat alam dunia yang mencapai Rp1.936,9 triliun, penguasaan produk jamu Indonesia masih sangat rendah — hanya sekitar 0,8 persen dari total pasar dunia. Negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di planet ini hanya menguasai kurang dari satu persen pasar yang dibangun dari bahan-bahan yang sebagian besar tumbuh di tanahnya sendiri.

Ekspor Bahan Mentah, Nilai Tambah Dikirim ke Luar

Di sinilah masalah struktural yang sesungguhnya terlihat.

Daun belimbing yang diekspor adalah bahan mentah — belum diolah menjadi ekstrak, kapsul, teh celup, atau produk akhir apa pun. Indonesia mengirim bahan baku, sementara nilai tambah diciptakan di tempat lain. Republik Dominika, atau siapa pun yang akhirnya mengolahnya, yang akan mencetak margin dari produk jadi.

Pola ini bukan baru. Hilirisasi menjadi langkah penting untuk menjadikan produk biofarmaka Indonesia lebih kompetitif di pasar global — tidak lagi sekadar bahan mentah, melainkan suplemen kesehatan, kosmetik berbasis herbal, hingga produk medis berstandar internasional. Transformasi itu akan memberikan nilai tambah signifikan bagi petani, industri, maupun perekonomian nasional.

Tapi keinginan dan kenyataan masih berjauhan. Penelitian tanaman obat di Indonesia sudah banyak dilakukan di perguruan tinggi maupun institusi penelitian, namun belum sampai tahap pengembangan lebih lanjut — dikarenakan terbatasnya ruang gerak dalam pengembangan produk. Laboratorium menghasilkan riset, tapi riset tidak berubah menjadi produk. Rantai itu putus di tengah jalan.

Tantangan yang Lebih Besar dari Sekadar Pasokan

Tantangan terbesar bukan pada permintaan — permintaan sudah ada dan sedang tumbuh. Tantangannya ada pada konsistensi pasokan dan standar kualitas. Pasar herbal global cenderung ketat dalam urusan keamanan produk, residu pestisida, hingga keterlacakan bahan baku.

Untuk merespons ini, pemerintah telah meresmikan House of Wellness pada Februari 2024 sebagai pusat riset dan pengembangan produk obat bahan alam yang menggabungkan sains modern dengan warisan tradisi. Langkah ini ada, tapi ia datang di tengah pasar yang sudah bergerak lebih cepat dari kapasitas institusi.