Ketika orang Karibia lebih dulu tahu nilai daun yang tumbuh liar di halaman rumah orang Indonesia, ada sesuatu yang salah — bukan dengan daunnya, melainkan dengan cara kita melihatnya.
KOSONGSATU.ID — Daun belimbing bukan tanaman mewah. Ia tumbuh di pekarangan, di pinggir jalan, di kampung-kampung yang tidak pernah terdengar di bursa komoditas mana pun. Selama ini ia lebih dikenal sebagai bahan urap atau pelengkap ramuan tradisional yang diracik nenek-nenek di dapur.
Tapi pada 2024, sesuatu berubah.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor daun belimbing Indonesia melonjak tajam — dari US$5.400 pada 2023 menjadi US$62.576 pada 2024, dengan volume naik dari 2.125 kilogram menjadi 8.769 kilogram. Dalam bahasa pasar, itu bukan sekadar kenaikan. Itu ledakan: lebih dari 1.000 persen dalam satu tahun.
Yang membuatnya lebih mengejutkan adalah asal permintaannya. Bukan dari Jepang, Jerman, atau negara-negara yang selama ini menjadi tujuan ekspor herbal Indonesia. Melainkan dari Republik Dominika — negara di Karibia yang nyaris tidak pernah muncul dalam peta perdagangan herbal Indonesia sebelumnya. Sepanjang 2019–2023, pengiriman ke negara itu hampir tidak ada. Pada 2024, Republik Dominika tiba-tiba menjadi pembeli terbesar, mengimpor sekitar 6.000 kilogram senilai US$52.900.
Pertanyaannya bukan kenapa Republik Dominika membeli. Pertanyaannya: kenapa mereka yang menemukan nilainya lebih dulu?
Pasar yang Bergerak, Indonesia yang Berdiam
Lonjakan daun belimbing bukan fenomena terisolasi. Ia adalah sinyal dari gerakan yang jauh lebih besar — dan Indonesia terlambat membacanya.
Teh herbal menunjukkan laju pertumbuhan tercepat di antara semua kategori teh global, dengan CAGR 8,2 persen, didorong oleh permintaan konsumen yang mencari produk bebas kafein dengan manfaat kesehatan spesifik. Di luar teh, pasar lebih luas lagi. Kementerian Perindustrian memperkirakan nilai pasar produk turunan biofarmaka global mencapai USD200,95 miliar.
Indonesia, secara teori, seharusnya berada di pusat pasar ini. Menurut data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Indonesia memiliki 33 ribu spesies bahan obat yang berpotensi menjadi bahan obat herbal. Namun pemanfaatannya baru sekitar 800 spesies yang menjadi bahan jamu, dan hanya 12–14 spesies yang telah dibuktikan keamanan serta khasiatnya secara ilmiah sebagai fitofarmaka.




Tinggalkan Balasan