Jauh sebelum menyampaikan gagasan Pancasila di sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Soekarno mengaku telah memendam dasar kebangsaan sejak 1918. Jejak awal perenungan itu, menurut sejumlah catatan, bermula di Kediri.
KOSONGSATU.ID — Selama ini, banyak orang mengenal Ende di Flores sebagai tempat kelahiran Pancasila. Di bawah pohon sukun yang menghadap Teluk Ende, Bung Karno disebut menemukan rumusan lima sila yang kemudian menjadi fondasi Republik Indonesia.
Namun, kisah itu sesungguhnya hanyalah bagian akhir dari perjalanan yang jauh lebih panjang.
Untuk memahami bagaimana Pancasila tumbuh dalam benak Soekarno, kita perlu menengok masa mudanya, ketika ia masih menjadi pelajar Hogere Burgerschool atau HBS di Surabaya. Di sela-sela pendidikan dan aktivitas organisasinya, Soekarno muda kerap kembali ke kampung keluarganya di Ndalem Pojok, Kecamatan Wates, Kediri.
Di tempat inilah, menurut berbagai penuturan yang dihimpun keluarga dan pengelola situs sejarah Ndalem Pojok, benih-benih perenungan kebangsaan mulai tumbuh.

Perenungan di Bawah Pohon Kepuh
Buku almamater HBS Surabaya mencatat Soekarno menempuh pendidikan di sekolah tersebut pada periode 1916–1921. Pada masa itu, ia dikenal aktif menyerap berbagai pemikiran tentang nasionalisme, penjajahan, dan perjuangan kemerdekaan.
Namun, di luar ruang kelas, terdapat ruang kontemplasi yang lebih sunyi.
Di halaman belakang Ndalem Pojok, berdiri sebuah Pohon Kepuh tua yang tumbuh di dekat aliran mata air dari lereng Gunung Kelud. Menurut Kushartono, pengelola Ndalem Pojok, pohon itulah yang kerap menjadi tempat Soekarno muda duduk berjam-jam untuk merenungkan masa depan bangsanya.
Di bawah rindangnya pohon tersebut, ia menjalani laku tafakur yang dalam. Bukan sekadar memikirkan kemerdekaan, tetapi juga mencari dasar moral dan filosofis yang mampu mempersatukan masyarakat Nusantara yang begitu beragam.




0 Komentar