Tempat Ruwatan di Lereng Lawu
Jejak fungsi spiritual Candi Cetho juga berbeda dari banyak candi lain di Jawa. Situs ini diyakini bukan semata ruang pemujaan umum, melainkan tempat pelaksanaan ruwatan, yakni ritual pembebasan dari malapetaka atau penolak bala. Relief Sudamala dan Garudeya di kompleks candi menguatkan tafsir itu karena sama-sama berbicara tentang pelepasan kutukan.
Tim peneliti arkeologi dan etnomatematika dari UST Yogyakarta dalam publikasi Prosiding Seminar Nasional Edumatnesia, 6 Juni 2024, menyebut Candi Cetho didirikan sebagai tempat ritual tolak bala. Mereka juga menyoroti susunan batu pada gapura yang membentuk pola geometris simetris, termasuk segitiga siku-siku dan persegi.
Saksi Sunyi Masa Peralihan
Letak Candi Cetho yang berada di ketinggian sekitar 1.496 meter di atas permukaan laut membuat situs ini terasa jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan. Posisi di lereng gunung itu kerap dibaca sebagai cerminan pergeseran zaman, ketika elite Majapahit menghadapi tekanan politik, perubahan sosial, dan goyahnya tatanan lama di tanah Jawa.
Kini Candi Cetho berstatus Cagar Budaya Nasional yang dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010. Arus kunjungan yang terus datang menunjukkan daya tariknya belum pudar. Namun di saat yang sama, pelestarian menjadi pekerjaan mendesak karena gesekan fisik, lumut, dan erosi mikro dapat perlahan menggerus batu-batu yang menyimpan memori sejarah itu.***



Tinggalkan Balasan