Tragedi bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, memicu kritik tajam terhadap efektivitas sistem perlindungan sosial di Indonesia.
KOSONGSATU.ID- Kasus Ngada dinilai sebagai potret nyata kegagalan negara dalam membangun ekosistem dukungan sosial yang holistik, di mana bantuan ekonomi belum mampu menjamin keamanan psikososial bagi anak-anak di wilayah rentan.
Tragedi yang dipicu oleh ketidakmampuan membeli alat tulis ini dinilai sebagai puncak gunung es dari rapuhnya ekosistem dukungan bagi anak-anak di wilayah pinggiran.
Bukan Sekadar Masalah Ekonomi
Kaprodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) UIN Sunan Kalijaga, Muhammad Izzul Haq, menegaskan bahwa peristiwa ini tidak boleh dilihat hanya sebagai masalah personal keluarga.
“Tragedi ini adalah indikator bahwa ekosistem dukungan sosial kita—di keluarga, sekolah, dan komunitas—masih sangat rapuh,” ujar pria yang akrab disapa Gus Izzul tersebut kepada Kosongsatu.id, Kamis (5/2/2026).
Gus Izzul menyoroti bahwa selama ini pemerintah terlalu fokus pada capaian administratif, seperti angka partisipasi sekolah, namun mengabaikan aspek psikososial.
“Kritik perlu diarahkan kepada pemerintah, termasuk Kementerian Sosial, agar tidak memandang bantuan sosial semata sebagai distribusi ekonomi. Bantuan sosial seharusnya menjadi instrumen perlindungan sosial yang holistik, yang mampu membaca dan merespons kerentanan psikososial keluarga dan anak”, tegas Gus Izzul.




Tinggalkan Balasan